“Saya kalau kebanyakan kena air nanti sakit, Bu.”

Kira-kira begitulah salah satu kalimat yang terngiang setelah menyaksikan film berdurasi 16 menit garapan Sutradara Wimar Herdanto, bertajuk Mesin Tanah. Berlokasi di Desa Leuweunggede, Majalengka, Jawa Barat, film pendek yang masuk dalam program Indonesian Screen Awards (ISA) Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-12 ini menghadirkan ironi dan ketimpangan yang terjadi antara kehidupan desa dan kota. Sutradara yang merangkap Direktur FESTCIL, sebuah festival film pendek di Surabaya, ini punya ciri khas tersendiri yang dilukiskan dalam Mesin Tanah. Ia mengemas tontonan singkat dan sarat akan isu sosial-kultural ini dengan penuturan yang menggelitik.

Seorang berperawakan tambun dan cukup nyentrik tiba-tiba datang ke sebuah desa didampingi oleh Kepala Dusun (Kadus). Kehadirannya disambut baik oleh penduduk Desa Leuweunggede. Hal ini tampak normal, sebagaimana masyarakat desa pada umumnya di Indonesia menyambut kedatangan tamu dari kota. Namun yang cukup mengejutkan adalah sepanjang perjalanannya mengeksplorasi desa tersebut, tokoh utama tampak asyik mendokumentasikan segala kegiatan di desa tanpa melewatkan satu hal pun.

Film ini mengajak Anda berpikir dan mengolah rasa, tentang fenomena meleburnya dua kebudayaan berbeda dengan menghilangkan ciri khas budaya asli yang selama ini terjadi. Tentunya, antara masyarakat perkotaan dan desa yang lekat akan kesenjangan dalam proses modernisasi. Anda akan dikejutkan dengan akhir yang tak terduga-duga, serta diajak untuk bersama menginterpretasikan maksud si pembuat film. Tampaknya memang si pemuda kota tak hanya mengeksplorasi desa, melainkan ada niat lain dalam kunjungannya tersebut.

Angela Shinta Dara Puspita