Mansour Forouzesh, sutradara berkebangsaan Iran, menampilkan kehidupan di sekolah dalam film pendeknya yang berjudul The Hose. Shaalbaf, siswa nakal tapi cerdas, dan seorang pendidik bernama Nobari menjadi tokoh kunci penyambung ujaran film. Apa yang dilakukan Shaalbaf di kelas, jelas merupakan pemberontakan.

Sebagai awam film, saya baru pertama kali menonton film pendek yang begitu provokatif terhadap dunia pendidikan, dan itu saya peroleh di The Hose. Dalam film berdurasi belasan menit ini, Mansour membalik semua persepsi positif dari masyarakat tentang pendidikan formal. “Tidak. Yang terjadi di sekolah tidak seperti itu,” barangkali demikian sanggah Mansour. Mansour mengkritik praktik pengajaran di sekolah dengan satire. Ia memilih menghadirkan “selang plastik” sebagai simbol kritiknya. Tokoh Nobari digambarkan oleh Mansour layaknya seorang diktator dengan selang ajaib yang selalu siap melecut siapa pun yang tidak menuruti perintahnya. “Selang ini sudah mengajari banyak hal kepada kita,” jelas Nobari di hadapan para siswa.

Selang merepresentasikan kekerasan yang terjadi di sekolah. Selang menggambarkan sosok guru yang senang main tangan kepada anak didik. Selang ialah sekolah itu sendiri. Namun, Nobari bosan dan hendak mengubah metode pengajarannya dengan cara membuang selang itu. Jadilah, Nobari sebagai pendidik favorit para siswa. Apa pun yang terucap dari mulut Nobari akan diaklamasi para siswa dengan tepuk tangan. Kelas jadi riuh dalam acara penyambutan sosok baru Nobari. Namun tidak demikian dengan penerimaan Shaalbaf. Sedari awal, kehadiran Nobari telah mewujudkan teror dalam imaji bocah itu. Ia selalu merasa tersudutkan oleh semua ucapan dan instruksi Nobari.

Polah nakal Shaalbaf memang khas gaya kanak-kanak. Mulai dari terlambat datang sampai menjawab pertanyaan guru dengan isyarat melalui jumlah jari. Deskripsi sosok Shaalbaf sebagai siswa pendiam saya rasa menampilkan perhatian Mansour terhadap penyandang difabel. Namun, mungkin juga, melalui satire ini Mansour meletakkan harapannya terhadap praktik pendidikan formal yang lebih baik untuk semua kalangan.

Sesudah membaca ulasan film ini, saya harap para penggemar setia JAFF yang telah menjadi orang tua segera pergi ke sekolah anak Anda sekalian. Lalu, bertanyalah kepada wali murid atau siapa pun yang memiliki otoritas di sekolah itu, “Sudahkah anak saya berbuat onar hari ini?”

Achmad FH Fajar