Awal Uzhara tampak seperti seorang lansia biasa ketika berada di ruang tamu rumahnya. Rambutnya yang beruban, kulitnya yang sudah berkeriput, berjalannya yang tertatih-tatih memperlihatkan kepada orang-orang bahwa usianya tidak muda lagi. Tatapan matanyalah yang akan menarik pandangan penonton, sebuah tatapan yang tegas, namun hangat, dan penuh pengalaman. Kedua mata itu tampak menembus bilah kacamatanya, hendak menyampaikkan sebuah cerita yang tidak akan pernah ia lupakan. Sebuah cerita bahwa ia pernah terpaksa terusir dari rumahnya sendiri, hanya karena tahun yang penuh tragedi.

The Gerasimove Institute of Cinematography (VGIK) adalah tujuan belajar baru bagi para calon sineas muda Indonesia yang terpilih pada masa pemerintahan Soekarno. Sjumandjaja, Ami Priono, Zubair Lelo, dan Awal Uzhara kemudian mendapat beasiswa untuk belajar sinematografi di Uni Soviet. Mereka memperdalam ilmu perfilman hingga menjadi delegasi budaya negara Indonesia di Rusia; ini adalah salah satu bagian kisah-kisah bahagia mereka.

Awal menyelesaikan studinya tak lama setelah terjadi huru-hara 1965, lalu tanpa berpikir panjang memutuskan kembali ke Indonesia. Kekacauan politik dan kemanusiaan itu membuat mereka yang berada di sebuah negara dengan ideologi yang mendadak dibenci kala itu (baca: Rusia) mendapatkan getahnya. Banyak yang tidak bisa kembali pulang, bahkan dicap pengkhianat karena belajar di Uni Soviet. Nasib Awal tampak cerah karena ia sempat berhasil pulang ke Indonesia, namun rentetan kejadian membuat hidupnya mulai dinaungi kegelapan yang mungkin tanpa akhir.

Karya Gilang Bayu Santoso ini mampu mempadukan kepingan-kepingan cerita seorang Awal Uzhara dengan sangat baik. Selain karena pengolahan cerita yang terbilang rapi, namun juga narasi itu langsung meluncur dari tokoh utamanya sendiri. Sebuah pergolakan batin Awal Uzhara karena bisa dibilang telah gagal menggapai cita-cita yang sebenarnya dan selama puluhan tahun diabaikan oleh kampung halamannya sendiri mampu dikemas secara lengkap. Dari mulai ketika Awal mengenali film, tertarik untuk mempelajarinya, hingga kegiatan-kegiatan rutin di hari tuanya mampu membangun kedekatan penonton dengan seorang korban peristiwa sejarah yang tidak mendapatkan yang seharusnya ia dapatkan.

Ragam kegiatannya di Uni Soviet hingga sekarang berubah menjadi Rusia pun jauh lebih banyak daripada kegiatannya di Indonesia. Rasa cintanya terhadap Indonesia tidak pernah pudar, banyak cara ia lakukan untuk mengungkapkan rasa cintanya itu. Menarik untuk melihat lebih jauh kelanjutannya, hingga bagaimana kisahnya berakhir. Sebuah kisah yang seharusnya mungkin tidak terjadi, sebuah nasib manusia.

Titus Kurdho