Tak puas dengan “Tanah Surga… Katanya” yang telah memenangkan penghargaan di Festival Film Indonesia 2012, Herwin Novianto kembali menggarap film apik bertajuk Aisyah Biarkan Kami Bersaudara yang rilis pada tahun 2016. Setelah sebelumnya mengangkat isu politik dan sosial dalam “Tanah Surga… Katanya”, dalam Aisyah Herwin mengusung isu agama, ras, serta berbagai fenomena ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia, khususnya antara Pulau Jawa dan pulau-pulau di bagian timur Indonesia, tepatnya Timor Tengah. Nantinya, film ini akan tampil dan diulas dalam program JAFF Indonesian Screen Awards (JAFF-ISA) di perhelatan Jogja-NETPAC Film Festival (JAFF) ke-12.
Seorang pemudi yang baru lulus kuliah bernama Aisyah (Laudya Cynthia Bella), dikisahkan memiliki semangat menggebu untuk mengabdikan dirinya sebagai guru di daerah yang belum pernah ia jamah. Berbekal nasihat almarhum sang ayah, Aisyah tak ingin setengah-setengah dalam menerapkan ilmunya. Ia pun berangkat ke Dusun Derok, Timor Tengah Utara, bermodal tekad dan doa restu sang bunda. Sesampainya di desa tersebut, ia dikejutkan dengan sebutan “Suster Maria” yang ditujukan untuknya, lantaran jilbab yang dikenakannya. Hal ini cukup ‘menyentil’ karena di film ini, bahwa baik Katolik maupun Islam, tokoh perempuan tersebut sama-sama mengenakan kerudung. Mayoritas penduduk yang beragama Katolik, perbedaan kebiasaan antara masyarakat Jawa Barat dan Timor Tengah, serta kekeringan mewarnai tiap adegan dalam film berdurasi 110 menit ini. Tentunya, dalam konfliknya pun sangat pelik, penghasutan dan pihak-pihak yang tidak senang akan kehadirannya turut menjadi tantangan tersendiri bagi Aisyah.
Meskipun isu utama yang dianggap cukup sensitif, yaitu toleransi agama dan ras, namun justru tiap-tiap dialog dan adegannya sarat akan nilai-nilai perdamaian dan cinta kasih. Bahkan murid-murid Aisyah sempat dihasut oleh Lordis Defam, seorang murid dengan latar belakang keluarga yang cukup keras, sehingga para murid tak berani masuk sekolah. Pada akhirnya, peran Aisyah dalam film ini cukup meluas, tak hanya sebagai seorang guru namun juga sebagai pembawa warna baru dalam desa tersebut. Mulai dari cinta kasih dan nilai toleransi tertanam jelas dalam film ini, Anda pun akan disuguhkan visual bentang alam Timor Tengah yang jauh berbeda dengan kehidupan di tanah Jawa.

Tak puas dengan “Tanah Surga… Katanya” yang telah memenangkan penghargaan di Festival Film Indonesia 2012, Herwin Novianto kembali menggarap film apik bertajuk Aisyah Biarkan Kami Bersaudara yang rilis pada tahun 2016. Setelah sebelumnya mengangkat isu politik dan sosial dalam “Tanah Surga… Katanya”, dalam Aisyah Herwin mengusung isu agama, ras, serta berbagai fenomena ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia, khususnya antara Pulau Jawa dan pulau-pulau di bagian timur Indonesia, tepatnya Timor Tengah. Nantinya, film ini akan tampil dan diulas dalam program JAFF Indonesian Screen Awards (JAFF-ISA) di perhelatan Jogja-NETPAC Film Festival (JAFF) ke-12.
Seorang pemudi yang baru lulus kuliah bernama Aisyah (Laudya Cynthia Bella), dikisahkan memiliki semangat menggebu untuk mengabdikan dirinya sebagai guru di daerah yang belum pernah ia jamah. Berbekal nasihat almarhum sang ayah, Aisyah tak ingin setengah-setengah dalam menerapkan ilmunya. Ia pun berangkat ke Dusun Derok, Timor Tengah Utara, bermodal tekad dan doa restu sang bunda. Sesampainya di desa tersebut, ia dikejutkan dengan sebutan “Suster Maria” yang ditujukan untuknya, lantaran jilbab yang dikenakannya. Hal ini cukup ‘menyentil’ karena di film ini, bahwa baik Katolik maupun Islam, tokoh perempuan tersebut sama-sama mengenakan kerudung. Mayoritas penduduk yang beragama Katolik, perbedaan kebiasaan antara masyarakat Jawa Barat dan Timor Tengah, serta kekeringan mewarnai tiap adegan dalam film berdurasi 110 menit ini. Tentunya, dalam konfliknya pun sangat pelik, penghasutan dan pihak-pihak yang tidak senang akan kehadirannya turut menjadi tantangan tersendiri bagi Aisyah.
Meskipun isu utama yang dianggap cukup sensitif, yaitu toleransi agama dan ras, namun justru tiap-tiap dialog dan adegannya sarat akan nilai-nilai perdamaian dan cinta kasih. Bahkan murid-murid Aisyah sempat dihasut oleh Lordis Defam, seorang murid dengan latar belakang keluarga yang cukup keras, sehingga para murid tak berani masuk sekolah. Pada akhirnya, peran Aisyah dalam film ini cukup meluas, tak hanya sebagai seorang guru namun juga sebagai pembawa warna baru dalam desa tersebut. Mulai dari cinta kasih dan nilai toleransi tertanam jelas dalam film ini, Anda pun akan disuguhkan visual bentang alam Timor Tengah yang jauh berbeda dengan kehidupan di tanah Jawa.

Angela Shinta Dara Puspita