Ruang yang baru terus dihadirkan oleh Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-12. Tahun ini, kembali berkolaborasi dengan Festival Film Dokumenter (FFD), JAFF menghadirkan sebuah wadah untuk publik memahami perpaduan warna kehidupan di seluruh penjuru Asia melalui sebuah medium bernama film dokumenter.

“Sudah merupakan salah satu komitmen JAFF untuk menayangkan film-film yang perlu dibaca, khususnya dokumenter. Entah dari pembuatnya, bentuknya, atau bahasa filmnya, hingga konten dan konteks film itu sendiri. Program ini menghadirkan film untuk pembaca JAFF, untuk bisa didiskusikan, untuk bisa dibaca lebih jauh,” jelas Kamila Andini, programmer JAFF untuk Asian Docs.

Pada tahun ini, tingkat produksi film dokumenter melimpah ruah, terutama di Indonesia. Hal ini tentu mengejutkan, melihat minat dokumenter pada tahun-tahun sebelumnya terbilang kurang. Oleh karena itulah Asian Docs dikemas sedemikian rupa untuk merangkum sebuah tahun yang terbilang menarik untuk dokumenter.

“Seperti tema kita, Fluidity, kita akan akan melihat dokumenter-dokumenter yang cair, yang dapat menembus batasan-batasan yang biasa kita lihat dalam dokumenter, sehingga film-film yang ada tidak itu-itu saja,” tambah wanita yang juga merupakan seorang sutradara dan baru saja memperoleh apresiasi luar biasa melalui karyanya The Seen and Unseen.

Asian Docs menayangkan tujuh film dokumenter pendek dan tujuh film dokumenter panjang. The Unseen Words (Wahyu Utami/Indonesia) dan Manila Scream (Roxlee, Blair Camilo, Bob Macabenta/Filipina) hanyalah dua nama dari beberapa dokumenter pendek yang harus ditonton. Kemudian pada kategori dokumenter panjang hadir Waxing Moon (Adrien Genoudet/Kamboja), Balada Bala Sinema (Yuda Kurniawan/Indonesia). Terpilih pula Semua Sudah Dimaafkan sebab Kita Pernah Bahagia (Katia Engel dan Paul Agusta/Indonesia), sebuah film yang bercerita mengenai perjalanan hidup seorang penyair, sastrawan terkenal Indonesia, Leon Agusta, dari sudut pandang anaknya, Paul Agusta.

Ada sebuah subprogram khusus dari Asian Docs yaitu Taiwan Docs, yang berisi tiga film Taiwan berkualitas yang dikurasi oleh Gertjan Zuilhof yang berkolaborasi dengan Taiwan International Documentary Festival. Semua negara memiliki lembar hitam dalam sejarah, Taiwan juga demikian. Taiwan Docs akan membuka tabir industri sinema dengan pro dan kontra yang cukup kompleks dalam menatap dunia internasional. Film-film terpilih tersebut adalah Blood Amber karya Lee Yong-chao, Realm of Reverberations karya Chen Chieh-jen, dan Small Talk karya Huang Hui-chen.