Setiap tahunnya Forum komunitas JAFF selalu menjadi arena diskusi dan berbagi cerita yang sangat efektif bagi berbagai komunitas film dari seluruh Indonesia. Kali ini BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) turut hadir dalam sesi temu komunitas film yang berlangsung di Ruang Auiditorium Grahatama Pustaka Jogja, Rabu (30/11) pagi hingga sore tadi dan menjadi bagian penting salah satu program dalam perhelatan JAFF. Mengusung tema “Arah Pengembangan Perfilman Di Daerah”, forum ini seakan membawa angin segar bagi keberadaan komunitas film daerah yang sedang mengalami banyak kendala. Forum dibuka dengan sambutan wakil kepala BEKRAF, Bapak Ricky Joseph Pesik kemudian Sutradara sekaligus Executive Director JAFF Ifa Isfansyah juga turut menyampaikan apresiasinya terhadap pejuang sinema, yang ditandai dengan geliat para komunitas film di berbagai daerah. Film fiksi “Fantastic Nite” karya Zidny Nafian dan film dokumenter “Thirty Five of Pleasure” karya Hakim M. Irsyad pun diputar seolah menjadi ucapan selamat datang di forum komunitas hari ini.  

Berbagai masalah dan fakta terkait usaha pengembangan perfilman di daerah dipaparkan oleh Endah W. Sulistianti, ST, MFA sebagai deputi hubungan antar lembaga & wilayah di BEKRAF. Salah satu hal yang menjadi catatan penting dalam paparan beliau adalah bagaimana memajukan perfilman khususnya supaya komunitas-komunitas film nantinya memiliki badan hukum. Tentu ini hal yang sangat dirindukan oleh insan perfilman, karena tak sedikit komunitas film di daerah yang begitu sulit berkembang dan kesulitan melakukan aktivitas gelar karya karena apresiasi pemerintah daerah begitu minim, bahkan ada yang sama sekali tak mendukung.  Menjawab masalah tersebut, Endah terus mendorong komunitas untuk tak berhenti “mencari perhatian” pemerintah daerah setempat. Didukung ataupun tidak, produktifitas komunitas harus kian menjadi, dengan harapan nantinya pergerakan komunitas itu bisa lebih populer dibanding dengan pemerintah daerah itu sendiri. Dengan begitu, dukungan akan mudah didapatkan. Kecintaan dan semangat terhadap perfilman adalah kunci, spirit itu pulalah yang akan membuat Bekraf siap senantiasa untuk bermitra.  

Di bagian lain, Dr. Hari Sungkuri sebagai Deputi Chairman for Infrastructure juga menyampaikan paparannya. Film yang menjadi salah satu sub sektor ekonomi kreatif harus lebih konsen terhadap kapan dan di mana orang bisa mengkonsumsi film. Keterbatasan ruang layar fisik untuk pemutaran film di jaman sekarang adalah sebuah masalah yang cukup menghambat pergerakan filmmaking di daerah. Oleh karenanya Dr. Hari mendorong peserta forum untuk lebih giat membuat revitalisasi tempat-tempat tak terpakai untuk dijadikan bioskop alternatif atau ruang kreasi pemutaran film secara mandiri untuk terciptanya akselerasi ekonomi. Melalui proposal yang jelas yang nantinya akan dihibahkan melalui pemerintah daerah setempat Bekraf akan siap membantu.  

85 peserta yang hadir dalam forum ini juga saling sharing pengalaman dan memperkenalkan komunitas film mereka. Salah satunya adalah komunitas “Godong Gedang” dari Banjarnegara Jawa Tengah. Aninda, perwakilan dari “Godong Gedang” berbagi pengalaman bersama rekan-rekannya ketika pertama kali membangun komunitas ini. Keinginan untuk menciptakan ruang pemutaran dan diskusi film secara mandiri di tengah keterbatasan ruang dan kondisi demografis membuat Aninda dan teman-temannya produktif bergerak sejak tahun 2012 hingga sekarang. Berbagai kegiatan mandiri dilakukan mulai dari forum kecil hingga kini lebih fokus ke pemutaran film untuk konsumsi khalayak. Melalui program “Sinemampir”, “Godong Gedang” ingin memberikan sebuah hiburan untuk masyarakat di mana sesi diskusinya langsung teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari, di mana setelah masyarakat menikmati suguhan layar tancap mereka membicarakan film yang mereka tonton. Aninda pun menutup dengan pernyataan, bahwa kini Ia bersama “Godong Gedang” sedang berproses dengan hati karena dari situlah muncul kepuasan dan kekuatan utuk terus survive, itu juga alasan mengapa “Godong Gedang” belum menuju ke Ekonomi Kreatif, meskipun dirinya menyadari hal itu sangat diperlukan untuk kesinambungan pergerakan komunitas film di masa yang akan datang.

Ayub Rohede