Empat tahun lalu, tepatnya tahun 2012, Dennis Adishwara memutuskan meninggalkan dunia keartisan. Bukan tanpa sebab, ketika itu Dennis memutuskan untuk fokus merintis usaha di bidang ekonomi kreatif yang ia beri nama “Layaria.com”. Pada program Sharing Forum Komunitas yang berlangsung di ruang auditorium Grhatama Pustaka, Selasa (29/11/2016) pukul 11.00, Dennis berbagi pengalamannya dalam membangun dan mengembangkan “Layaria.com” kepada peserta yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Tak hanya itu, Dennis pun berbicara tentang seluk beluk dunia video daring dalam Forum Komunitas yang bertajuk “The Power of Online Video: A Personal Story”.

Perjalanan karir Dennis Adishwara di industri video daring berawal dari sebuah keresahan. Kala itu, Dennis merasa jenuh dengan tayangan sinetron yang minim inovasi dan melimpahnya konten sampah yang beredar. Keresahan inilah yang kemudian mendorongnya melahirkan Layaria. Layaria hadir sebagai platform yang mendorong pembuat video untuk berkarir melalui video daring. Baginya konten sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab televisi atau rumah produksi, penonton pun memiliki andil dalam memutus “rantai setan” yang ia gambarkan dengan hubungan dan pola interaksi antara rumah produksi-televisi-rating-penonton. Layaria digagas sebagai inkubator yang akan melahirkan pembuat video handal yang nantinya akan memutus “rantai setan” tersebut.

Di saat yang sama, ia melihat peluang besar pada video daring untuk mengambil alih peran tv sebagai media hiburan dan edukasi masyarakat, juga sebagai ladang ekonomi yang menggiurkan. “Aku melihat dari tahun ke tahun jumlah orang yang mengakses perangkat digital untuk menonton video semakin besar. Dan menurut perhitunganku, akan ada satu titik di mana kita akan menonton full dari media online dan meninggalkan tv (tv konvensional),” terang Dennis. Ia menambahkan bahwa pada tahun 2016, sebanyak 132,7 juta jiwa penduduk Indonesia telah menjadi  pengguna internet dan 14,5 juta mengunjungi platform khusus video daring setiap harinya, dan pada 2018, media daring diprediksi mampu melampaui pendapatan iklan televisi.

Peluang yang ditawarkan oleh bisnis video daring memang menjanjikan, namun diperlukan strategi khusus untuk dapat bertahan dalam iklim persaingan begitu ketat. Pada kesempatan itu, Dennis membagikan rahasia untuk menjadi kreator video yang handal, di antaranya: konsistensi konten, topik dan jadwal tayang; relevansi dan kedekatan tema yang diangkat dengan audien; melibatkan audien (komunikasi dua arah); menggunakan berbagai platform media; memaksimalkan nilai kreativitas, produksi dan penerbitan; serta yang paling penting, konten harus mampu memberikan dampak yang baik bagi kreator maupun penikmatnya.

Selain menaruh perhatian pada pengembangan strategi bisnis video daring, Dennis juga tidak menutup mata pada kenyataan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih berpendapatan dan berpendidikan rendah. Ketimpangan pendidikan dan ekonomi inilah yang menyebabkan masyarakat masih menonton televisi dan mengakses konten sampah.  Karenanya literasi media dirasa perlu dan untuk hal ini, kerja kolektif dianggap mampu membawa perubahan. “Sulit mengharapkan TV memainkan peran itu karena di dalamnya terdapat berbagai pertimbangan dan kepentingan. Kita bisa melawan lewat video online di mana semua orang bisa berkontribusi dan mengubah kondisi,” tutur Dennis. Ia pun berpesan kepada para pembuat video muda untuk tidak minder akan karya mereka, terlebih mereka yang datang dari kota-kota kecil, “Eksplorasi daerahmu, jangan minder sama Jakarta yang cuma punya mall dan kantor. Ada banyak hal yang tidak bisa dibeli di Jakarta,” gugahnya.

Setelah Dennis melakukan presentasi, para peserta yang datang dari berbagi kota, seperti Batam, Pasuruan, Cikarang dan Jogja, antusias mengajukan pertanyaan serta memaparkan tantangan yang mereka dalam produksi video daring, mulai dari sasaran audien, keterbatasan media, rasa rendah diri, hingga bagaimana menggali ide-ide kreatif dan orisinal. Interaksi berlangsung seru juga menarik hingga tak terasa waktu dua jam telah terlalui dan Forum Komunitas bersama Dennis Adishwara pun harus berakhir. Pertemuan tersebut diakhiri dengan foto bersama para peserta Forum Komunitas dan Dennis Adishwara.

Erni Maria