Memasuki hari ke dua, Focused Education menjadi salah satu program workshop yang cukup menarik karena tahun ini merupakan tahun pertama diadakan di festival JAFF. Workshop ini digelar di ruang seminar TBY, selasa (29/11) dari pagi hingga sore dan akan dilanjutkan di sesi ke dua Rabu (30/11) esok hari. Berangkat dari adanya perubahan yang terus menerus terjadi dalam perihal peralatan film digital dan pasca produksi yang merupakan tantangan terbesar dalam produksi film sekarang, hal itulah yang akhirnya melahirkan “Workshop Focused Education” ini. Workshop yang mengusung tema “A Journey from Camera To Screen” ini memiliki visi untuk mengajak dan menuntun para peserta untuk memahami konsep workflow (alur kerja) dalam pembuatan film secara digital. Salah satu pembicara dalam workshop ini adalah Robin Moran yang merupakan seorang sutradara Indonesia, editor, produser serta direktur Focused Equipment. Robin menyampaikan beberapa materi seputar digital filmmaking. Salah satunya adalah workflow teknis dalam sebuah produksi film. Menurutnya, hal yang harus menjadi pemahaman adalah transisi masa di mana akarnya diawali dari prosedur kerja pada era celluloid, proses menggunakan kamera serta proses pasca produksi yang dilakukan secara manual.  Hal itu, tentu membuat kita akan bergantung kepada profesional ahli sesuai tahapan kerjanya. Pada saat prosedur kerja berpindah ke era digital, nyatanya semua bisa dirangkum dalam komputer, dan kita bisa meng-handle semua sendiri, sehingga kita tidak lagi bergantung pada banyak orang. Robin juga memaparkan, melalui Focused Education ini dia ingin menjembatani filmmaker baru dari berbagai komunitas yang telah hadir untuk menyadarkan mereka, bahwa kamera yang mereka pakai pada umumnya sudah menjadi baseline yang sangat baik yang ternyata itu bisa diaplikasikan ke kamera-kamera yang lebih baik seperti Red Camera dan Alexa. Tak hanya itu Robin juga mengedukasi melalui contoh-contoh dan pengalaman seputar prosedur workflow dalam sebuah produksi yang besar dengan menggunakan peralatan terbaik , namun Robin menekankan bahwa mereka juga bisa menjalankannya dengan kamera mereka sendiri.

Workshop ini diikuti oleh 61 peserta yang  bukan hanya berasal dari kota Jogja saja, melainkan dari berbagai kota besar Indonesia dan provinsi seperti Ambon, Bandung, Bali,  Jakarta, Makasar, Kendari, Batam, Solo, Jember dan Probolinggo. Vanesa, Salah satu peserta workshop yang berasal dari Bali yg juga sedang mendalami dunia sinema ini mengaku mendapatkan jawaban akan masalah yang sering ia hadapi ketika sedang melakukan sebuah produksi film. Ternyata, hal penting dalam sebuah produksi film adalah  bagaimana menggunakan segala hal lebih tepat guna, seperti pemakaian memori adalah contoh sederhananya. Ia mengaku puas karena semua ilmu yang mungkin hanya didapatkan di sekolah film formal atau master class bisa didapatkan dalam workshop ini terlebih ilmu yang lebih mendalam tersebut didapatkan langsung dari profesional ahlinya.

Selain materi workshop yang beragam, di hari kedua, peserta juga akan diajak untuk mengikuti praktek shoot dengan sebuah scene yang telah dipersiapkan. Menariknya peserta akan diberi kesempatan untuk menggunakan best equipment dari Focused Equipment.  Sesi ini akan langsung di-direct oleh Gunnar Nimpuno, yang merupakan salah satu penata sinematografi yg sangat menonjol di dunia sinema kontemporer Indonesia. Beberapa karya sinematografinya seperti “Sang Pemimpi”, “Modus Anomali”, “Sokola Rimba”, dan “Pendekar Tongkat Emas” membuktikan betapa qualified-nya karya tangan dinginnya. Sayang untuk dilewatkan.

Ayub Rohede