Pada tahun ini, “Salawaku” dirujuk sebagai film pertama yang menjadi pembuka di ajang pemutaran film JAFF 11th (Jogja-Netpac Asian Film Festival) pada 28 November 2016 di Taman Budaya Yogyakarta. Film bergenre fiksi – drama road movie ini berlatarbelakang produksi di Maluku. Sebuah film garapan sutradara Pritagira Arianegara dan di produksi oleh Kamala Film Production menghadirkan pemain cilik Maluku yaitu Elko Kastanya sebagai Salawaku dan Karina Salim sebagai Saras.

Film ini berkisah tentang sebuah perjalanan dua orang yang berbeda tujuan dan kepentingan. Salawaku seorang anak kecil yang ingin mencari kakaknya Binaiya dan Saras seorang anak Jakarta yang ingin mengembalikan masalahnya dari kota tinggalnya. pertemuannya dalam sebuah  perjalanan bersama Kawanua, kakak angkat Salawaku untuk menemukan Binaiya harus menghadapi berbagai konflik dan drama yang menyertai kisah mereka dan perlahan terungkap alasan Binaiya pergi dari desanya dan Salawaku.

Film yang diproduseri oleh Ray Zulham dan Michael Julius ini juga bercerita tentang perbedaan keinginan dua tokoh. Salawaku yang mengingkan tinggal bersama orang yang dia cintai yaitu kakaknya. Lain lagi dengan Saras yang tak ingin hidup dengan siapa pun kecuali dirinya sendiri. Dalam perjalanan mereka, Saras memutuskan ikut membantu menemukan kakak Salawaku dan melupakan semua masalahnya.

“Salawaku adalah perisai dari Maluku yang bertujuan untuk melindungi dan berharap Salawaku menjadi pelindung kehidupannya dan kakaknya”, ungkap Prita tentang pemilihan judul Salawaku. Salawaku selain senjata tradisional Maluku juga dipilih sebagai judul sekaligus nama karakter dalam film yang menghadirkan keindahan Indonesia bagian timur.

Meski belum tayang di Indonesia, film ini sudah mulai populer karena meraih banyak penghargaan pada ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2016, Salawaku berhasil mendapat delapan penghargaan sekaligus berhasil memenangkan Best Asian Future Award dan tayang perdana di program Asian Future, Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-29. Film berdurasi 82 menit ini hampir seluruhnya dilakukan di ruang terbuka dengan pantai dan alam Indonesia yang begitu menakjubkan.

Salma Durroh S