Perhelatan Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) kembali sukses digelar. Memasuki usia ke 11, JAFF mengibarkan eksistensinya dengan mengusung tema “ISLANDSCAPE” di mana film-film panjang Asia Pasific dapat dinikmati tahun ini. Tema besar kali ini sekaligus menandai bahwa perluasan sinema yang dipromosikan JAFF pada tahun ini telah menjangkau wilayah Pasifik. Kematangan perhelatan ini juga ditandai dengan melahirkan program-program barunya seperti (O)Zeeing The Neighbour, program yang akan mengajak penonton untuk “menilik” film-film negara tetangga, Australia. Program yang tak kalah spesialnya yaitu “Tribute to Abbas Kiarostami” di mana film Kiarostami terakhir “Take Me Home” dan dokumenter mengenai Kiarostami bertajuk “76 Minutes” akan diputar untuk mengenang Sutradara Iran  Abbas Kiarostami yang meninggal tahun ini. Program spesial lainnya adalah Iranian Independents, sebuah gerakan pertama dalam industri perfilman Iran untuk promosi film internasional yang bergerak di sektor swasta. Beberapa film dari Iranian Independents pun akan meramaikan panggung JAFF.

Bertempat di gedung societet Taman Budaya Yogyakarta, Senin (28/11) kemeriahan pembukaan 11th Jogja-Netpac Asian Film Festival resmi dibuka dengan prakata sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dan perwakilan dari Japan Foundation dengan ditandai pemukulan Gong oleh Garin Nugroho selaku Presiden Festival Budi Irawanto selaku Direktul Festival. bahkan kehadiran jejeran artis dan para pembuat film serta kehadiran para pemain film “ SALAWAKU” sebagai film pembuka semakin memecahkan kemeriahan pembukaan resmi JAFF 11th  kali ini. penampilan tarian atraktif sarat makna oleh penari-penari dari SMK N 1 Kasihan Bantul yang membawakan tarian Hanoman yang seolah menjadi pintu gerbang utama menuju perjalanan festival 6 hari kedepan.

Adapun karya-karya lain yang turut melengkapi festival seperti karya  Artwork dari Wulang Sunu dan karya Gertjan Zuilhof seorang curating and programming berupa gambar-gambar yang Ia buat di sebuah tembok juga semakin menghiasi suasana pembukaan JAFF 11th kali ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya antusias dari filmmaker dan penikmat film meletup menyambut festival besar ini. Meskipun sejak sore hingga dibukanya festival hujan tak kunjung reda, namun sambutan masyarakat sangat besar. Film Salawaku yang didaulat sebagai film pembuka festival berhasil membuat ruang societet Taman Budaya Yogyakarta penuh sesak dengan penonton. Terbatasnya tempat, membuat banyak penonton tak dapat masuk ke ruangan teater, meskipun sebagian sudah dipersilahkan untuk duduk lesehan. Hal yang selalu menarik dari JAFF adalah membaurnya penonton dengan filmmaker beserta para pemain. Sebelum Salawaku diputar, penonton dibuat larut dalam persembahan Dance Film Performance garapan Faozan Rizal yang berkolaborasi dengan Tony Broer sebagai penari tunggal dan Yasuhiro Morinaga sebagai sound director. Film tari, pertunjukan musik dan seni instalasi digabung dalam visual art ini.  

Ayub Rohede