Pelaksanaan program Public Lecture sesi ke empat  dalam 10th JAFF, Jum’at (4/12) di IFI LIP Sagan Yogyakarta berlangsung lancar. Dihadiri oleh beberapa pembuat film dan produser, diskusi mengusung tema “Promosi dan Festival Strategi”. Diskusi ini membahas tentang sejauh mana dunia perfilman di Indonesia telah mengakses festival Internasional. Diskusi dipandu oleh moderator Nursita Mouly Surya, seorang sutradara dan seorang penulis film di Indonesia.

Sutradara Kamila Andini menjelaskan festival memiliki beragam program. Umumnya, festival film ialah wadah  pemutaran film sekaligus ajang apresiasi melalui kompetisi film. Padahal jika diperhatikan lebih mendalam, festival bukan hanya soal pemutaran tapi juga distribusi. Pemahaman baru tentang festival perlu dikembangkan.

Pembuat film dapat menyerap ide inovasi baru melalui festival dari film-film yang beredar. Energi dan reaksi penonton juga sangat berpengaruh besar terhadap pemikiran-pemikiran pembuat film.

Saat ini ada 4000 film festival dengan beragam nominasi berkiprah di dunia internasional. Ada ruang yang sangat besar bagi keberagaman sinema. Lebih dari itu, festival adalah ruang distribusi yang sangat luas.  Salah satu pihak yang berperan adalah distributor. Distributor film dunia akan mencari film di festival film internasional lalu mendistribusikannya.

Agar dapat memanfaatkan festival dengan efektif, pembuat film perlu belajar mengatur strategi. Mereka perlu mempersiapkan diri sebelum mengikuti festival karena ada beragam kesempatan seperti pendanaan film, forum pitching, project market, production development, post production, pelatihan dsb.

Beberapa festival memberikan dana hibah produksi film melalui kompetisi. Film yang didanai akan diputar dan didistribusikan melalui jaringan festival tersebut. Dalam forum pitching, para pembuat film berkesempatan mempresentasikan ide filmnya agar mendapatkan investor. Dengan maksud yang sama namun berbeda metode, project market pun dapat mempertemukan pembuat film dengan investor dan distributor film. Beberapa festival menyediakan forum pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pembuat film soal manajemen dan teknik produksi. Bahkan ada forum untuk meminta masukan dari pembuat film, investor, produser, programmer mengenai ide film yang hendak diproduksi.

Tujuan lain mengikuti festival,  namun kurang disadari oleh pembuat film, adalah branding. Melalui festival, pembuat film dapat memperkenalkan identitas rumah produksi dan karyanya. Strategi yang ditempuh bisa sangat beragam dengan media cetak, audio visual,  komunikasi interpersonal hingga presentasi. Pendek kata, festival adalah ruang yang luas untuk bertemu, memperkenalkan diri dan membuka jaringan kerja dengan pembuat film, investor, distributor, programmer dari berbagai negara.

Adapun beberapa program festival film besar diantaranya Asia Pasific Screen Awards, Hong Kong – Asia Film Finance Forum, Thies That Bind, Cinefondation. Sundance Film Festival, La Biennale di venezia, Festival De Cannes, Internationale filmfestspiele, Berlin, dan Toronto International Film Festival, Dll. Selain program awards , terdapat juga program pelatihan seperti : APM (Asia Project Market) – Busan International Film Festival, L’atelier – Cannes Film Festival, Cinemart – Rotterdam International Film Festivala, Sundance Screenwritters Lab, Torino Film Lab, AFA ( Asia Film Academy) – Busan International Film Festival, Berlin Talent Campus – Berlinale Int Film Festival.