Bertempat di Loop Station, 3 Desember 2015 pukul 10.00-12.00 berlangsung diskusi hangat bersama Button Ijo. Dirintis oleh Amir Pohan dan Myrna Paramita pada 2010, ButttonIjo berfokus pada distribusi film online. Mereka hendak menghadirkan opsi distribusi alternatif bagi pembuat film. Berkelit dari tata edar film bioskop yang sulit, ButtonIjo ingin memberdayakan kegiatan pemutaran film yang kian marak di Indonesia. Sehingga peredaran film tidak harus bergantung pada bioskop dan festival saja.
Saat ini ada tiga program yang sedang dan akan digalakan oleh ButtonIjo. Program itu adalah: distribusi online (via streaming), distribusi offline (via USB Sinema), dan film funding (pendanaan film). Siapapun yang ingin mengakses ketiga program ini cukup registrasi menjadi anggota buttonijo. “ButtonIjo sudah 3 tahun, ada banyak kegiatan seperti bikin film dan iklan. Tahun ini kami mencoba distribusi melalui USB sinema dan streaming,” jelasnya Myrna.

Kemudahan materi film yang tersedia pada web buttonijo.com dapat diakses oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun melalui perangkat smartphone, tablet, personal computer, hingga laptop. Materi itu telah diproses sedemikian rupa sehingga bisa punya resolusi gambar setara blu-ray dengan ukuran file yang kecil (sekitar 100-200mb untuk film berdurasi 90 menit). Hal ini memungkinkan waktu buffering yang jauh lebih cepat saat menonton, dan akses yang mudah di seluruh wilayah Indonesia yang koneksi internetnya beragam. Tentunya, sistem distribusi online ini turut dilengkapi dengan fitur keamanan mutakhir sehingga pembuat tidak perlu khawatir karyanya dibajak.

Selain melalui web ada pula USB Sinema. Ini merupakan salah satu inisiatif ButtonIjo untuk bantu memperkuat kegiatan pemutaran independen yang banyak dilakukan komunitas film di Indonesia. Kelompok atau individu bisa membeli USB ButtonIjo yang sudah terisi film, untuk kemudian dijadikan materi pemutaran di layar-layar alternatif. Film dalam USB tersebut sudah diproses sedemikian rupa sehingga punya resolusi gambar high-definition, tidak bisa digandakan, dan hanya bisa diakses sampai batas waktu yang disepakati antara pemutar film dan ButtonIjo. Lewat batas waktu tertentu, file film secara otomatis tidak lagi bisa ditayangkan. Sampai dengan batas waktu itu juga, pemutar film punya hak untuk memutar film sebanyak yang diinginkan dan menarik tiket sesuai dengan harga yang dianggap layak.

Hasil penjualan tiket menjadi milik penyelenggara pemutaran film, untuk dijadikan modal pemutaran lagi. Sementara pembuat film mendapat uang dari hasil penjualan USB. Melalui USB Sinema ini, semua film dalam naungan ButtonIjo punya kesempatan untuk diputar pada berbagai kesempatan di berbagai wilayah Indonesia dan internasional.

Program pendanaan film ButtonIjo setiap tahunnya membuka kesempatan bagi tiga proyek film pendek dan satu proyek film panjang. Nilai total program ini adalah 160 juta. Dalam proses seleksi, ButtonIjo akan membentuk satu panel khusus berisikan perwakilan dari ButtonIjo dan pegiat perfilman Indonesia. Program ini sebagai respons terhadap kesulitan yang kerap dialami pembuat film alternatif karena tidak punya anggaran khusus untuk produksi.

Film yang dibiayai ButtonIjo akan didistribusikan pula. Beberapa film yang sudah mendapat dukungan pendanaan ButtonIjo antara lain: Ayam Mati di Lumbung Padi (Darwin Nugraha), Rocket Rain (Anggun Priambodo), Another Trip to the Moon (Ismail Basbeth), Riding the Light (Jeihan Angga), Langit Masih Gemuruh (Jason Iskandar). Selain film, ButtonIjo juga telah memproduksi dan mendistribusikan musik lokal seperti Leonardo And His Impeccable Six [The Sun, Mirrors, Built To race], Zeke Khaseli [Salacca Zalacca, Fell In Love With The Wrong Planet] and Zeke And The Popo [Space In The Headlines].

Oleh: Uswah