Pesona Pulau Sumba dan berbagai fenomena di dalamnya membuat Garin Nugroho membayangkan sebuah ide film yang mengangkat kisah perjuangan seorang perempuan adat dalam mempertahankan haknya. Ide ini mengingatkannya pada Mouly Surya, seseorang yang dianggap Garin cocok dan representasif untuk menggarapnya. “Awalnya ketika saya menjuri di festival film pada akhir 2014, Garin memanggil saya. Dia mengajak membuat film dan kemudian cerita tentang Marlina, perempuan yang dirampok dan lain sebagainya. Ternyata dia sangat serius, dia bilang bahwa dia ingin ada sutradara perempuan yang menggarap film ini. Lalu Garin mengirim lima halaman sinopsis singkat, dan saat saya dan Rama membacanya, kami sepakat bahwa inilah film ketiga yang akan kami garap,” ujar Mouly Surya dalam jumpa pers, Selasa (7/11).

Obrolan antara Garin dan Mouly Surya ternyata berlanjut dengan keseriusan riset, kunjungan langsung ke Sumba, hingga penentuan warna-warna yang tepat untuk aspek sinematografi. Tidak hanya itu, Marsha Timothy dipacu untuk memerankan sosok perempuan yang cenderung ‘dingin’ dan tidak pernah memperlihatkan emosi berlebihan. Persiapan yang dilakukan tidak main-main, Marsha harus melakukan banyak latihan untuk memerankan sosok Marlina. “Prosesnya lebih banyak diskusi dengan sutradara, kemudian juga disiapkan coach yang melatih dialek. Lalu ada pula pihak yang melatih saya menunggangi kuda, naik motor, dan lain sebagainya. Kurang lebih selama tiga bulan saya latihan reading, acting, lalu reading lagi. Kami juga sempat riset kembali ke Sumba,” paparnya, Selasa (7/11).

Maggie Lee, kritikus film Asia untuk Variety, bahkan menyebut Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak sebagai film bergenre “Satay-Western” pertama di Indonesia. Nama ini lahir dari pendekatan ala film Barat yang cukup kental dalam film ini, walaupun latar dan nilai-nilai yang ditampilkan sangat “Indonesia”. Mouly dalam konferensi pers, Selasa (7/11) pun sempat memaparkan bahwa istilah Satay-Western dipilih Maggie dari nama makanan terkenal di Indonesia, seperti halnya saat ia menamai film bergaya serupa produksi Italia dengan istilah “Spaghetti-Western.” Selain itu, nilai feminisme pun cukup kental dalam film ini; Marlina sebagai sosok feminin membela dirinya sendiri atas ketidakadilan yang menimpanya.

“Tiba-tiba saat saya menaruh genre Western di sini malah ceritanya jadi accessible, cerita yang tadinya sangat jauh dan sangat lokal, jadi universal. Menurut saya itu membuat jadi lebih asyik. Sebenarnya feminist-Western sudah banyak ya, misal di Amerika juga sudah ada. Tapi yang lebih menarik adalah ketika dari Indonesia gitu, karena secara geografis saja nggak ada di Barat sama sekali, haha…. Waktu itu sempat sih, agak kayak, make sense nggak sih, Western di Indonesia? Tapi justru karena tidak biasa menurut saya malah jadi menarik…,” paparnya bersemangat, Selasa (7/11).

Setelah perjalanan film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak keliling berbagai festival film internasional, Marlina akhirnya tayang perdana di Indonesia pada Special Screening Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2017 di CGV Cinemas, Hartono Mall, Selasa (7/11). Film ini menjadi satu sesi “pemanasan” bagi JAFF dan penonton untuk bersiap merayakan satu-satunya festival film Asia Pasifik di Indonesia pada tanggal 1-8 Desember 2017. Mouly Surya juga memaparkan, “Saya ingin karya saya terus ada di JAFF, karena secara personal saya memang merasa memiliki kedekatan dengan JAFF dan menurut saya ini adalah festival film yang sangat penting di Indonesia dan hanya satu-satunya.”