BANNER BENDE

EDISI #5 // 05 DESEMBER 2015

SULUK

Menembus Dunia Lewat Festival Film

Pelaksanaan program Public Lecture sesi ke empat dalam 10th JAFF, Jum’at (4/12) di IFI LIP Sagan Yogyakarta berlangsung lancar. Dihadiri oleh beberapa pembuat film dan produser, diskusi mengusung tema “Promosi dan Festival Strategi”. Diskusi ini membahas tentang sejauh mana dunia perfilman di Indonesia telah mengakses festival Internasional. Diskusi dipandu oleh moderator Nursita Mouly Surya, seorang sutradara dan seorang penulis film di Indonesia. Sutradara Kamila Andini menjelaskan festival memiliki beragam program. Umumnya, festival film ialah wadah pemutaran film sekaligus ajang apresiasi melalui kompetisi film. Padahal jika diperhatikan lebih mendalam, festival bukan hanya soal pemutaran tapi juga distribusi. Pemahaman baru tentang festival perlu dikembangkan. Pembuat film dapat menyerap ide inovasi baru melalui festival dari film-film yang beredar. Energi dan reaksi penonton juga sangat berpengaruh besar terhadap pemikiran-pemikiran pembuat film. Saat ini ada 4000 film festival dengan beragam nominasi berkiprah di dunia internasional. Ada ruang yang sangat besar bagi keberagaman sinema. Lebih dari itu, festival adalah ruang distribusi yang sangat luas. Salah satu pihak yang berperan adalah distributor. Distributor film dunia akan mencari film di festival film internasional lalu mendistribusikannya. Agar dapat memanfaatkan festival dengan efektif, pembuat film perlu belajar mengatur strategi. Mereka perlu mempersiapkan diri sebelum mengikuti festival karena ada beragam kesempatan seperti pendanaan film, forum pitching, project market, production development, post production, pelatihan dsb. Beberapa festival memberikan dana hibah produksi film melalui kompetisi. Film yang didanai akan diputar dan didistribusikan melalui jaringan festival tersebut. Dalam forum pitching, para pembuat film berkesempatan mempresentasikan ide filmnya agar mendapatkan investor. Dengan maksud yang sama namun berbeda metode, project market pun dapat mempertemukan pembuat film dengan investor dan distributor film. Beberapa festival menyediakan forum pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pembuat film soal manajemen dan teknik produksi. Bahkan ada forum untuk meminta masukan dari pembuat film, investor, produser, programmer mengenai ide film yang hendak diproduksi. Tujuan lain mengikuti festival, namun kurang disadari oleh pembuat film, adalah branding. Melalui festival, pembuat film dapat memperkenalkan identitas rumah produksi dan karyanya. Strategi yang ditempuh bisa sangat beragam dengan media cetak, audio visual, komunikasi interpersonal hingga presentasi. Pendek kata, festival adalah ruang yang luas untuk bertemu, memperkenalkan diri dan membuka jaringan kerja dengan pembuat film, investor, distributor, programmer dari berbagai negara. Adapun beberapa program festival film besar diantaranya Asia Pasific Screen Awards, Hong Kong – Asia Film Finance Forum, Thies That Bind, Cinefondation. Sundance Film Festival, La Biennale di venezia, Festival De Cannes, Internationale filmfestspiele, Berlin, dan Toronto International Film Festival, Dll. Selain program awards , terdapat juga program pelatihan seperti : APM (Asia Project Market) – Busan International Film Festival, L’atelier – Cannes Film Festival, Cinemart – Rotterdam International Film Festivala, Sundance Screenwritters Lab, Torino Film Lab, AFA ( Asia Film Academy) – Busan International Film Festival, Berlin Talent Campus – Berlinale Int Film Festival.

GONG

Viddsee Short Film Showcase : Film Pendek yang Kuat dan Unik dari Asia

Viddsee merupakan sebuah program portal video daring yang memudahkan penonton global untuk menemukan, menonton, dan berbagi film pendek Asia dari komputer dan perangkat ponsel mereka. Para pembuat film datang bersama, melalui sebuah program portal yang unik, untuk saling mempromosikan, berkolaborasi, dan menumbuhkan penonton untuk film-film Asia. Koleksi film yang ditampilkan tahun ini di 10th Jogja-Netpac Asian Film Festival disusun dari para pemenang Viddsee Shortee. Film-film tersebut diantaranya yaitu Closer Apart, Bro, Revenge (Merindu Mantan), Lola (Granma), Fall, dan Delete.

 

Program Viddsee Short Film Showcase ditayangkan pada 4 Desember 2015 di ruang pemutaran Taman Budaya Yogyakarta. Pemutaran film pertama Singapura Closer Apart, bercerita tentang seorang Ayah yang selalu di sia-siakan oleh anggota keluarganya dan akhirnya sang Ayah pergi meninggalkan rumah. Rasa bersalah dan penyesalan mulai muncul ketika sang Ayah pergi. Film keluarga ini menggambarkan pentingnya ikatan kekeluargaan yang harmonis.

Bro, film kedua dari Taiwan. Kakak laki-laki dengan keterbelakangan mental dan adik perempuan yang akan segera menikah. Pada tunangannya, ia bermaksud untuk mengenalkan kakak laki-lakinya tetapi hal itu tidak semudah yang ia duga. Dalam film ketiga, Revenge (Merindu Mantan) dari Indonesia. Seorang wanita balas dendam kepada sang kekasih karena diduakan. Jalan yang ia tempuh yaitu lewat santet agar menimbulkan penderitaan yang sama.

Film keempat dari Filipina Lola (Granma), menceritakan seorang nenek yang menghabiskan waktu senja dengan melakukan pekerjaan rumah tangga. Kunjungan dari seorang tamu yang tak terduga memaksanya untuk melakukan hal yang berujung kematian. Fall, film kelima dari Hongkong mengisahkan tentang jatuh, jatuh kedalam jebakan dan kebohongan dan penipuan. Jatuh cinta dan putus cinta, dan jatuh ke masa lalu secara menakjubkan.

Di akhir penayangan disajikan sebuah film horor dari Malaysia yaitu Delete. Bercerita tentang empat orang gadis yang mulai terganggu setelah mereka mengambil sebuah kamera digital di kamar mandi. Gangguan-gangguan mulai muncul dengan adanya suara misterius panggilan telepon yang mendesak mereka untuk menghapus sesuatu.

Salma Durroh S.

KELIR

Something In The Way: Sebuah Konflik Kehidupan

Something In The Way bercerita tentang Ahmad, seorang supir taksi di Jakarta yang hidupnya sederhana. Dibalik itu semua, Ahmad memiliki kebiasaan buruk kecanduan bacaan maupun video seks, namun tak bisa melampiaskan keinginannya karena tak mampu. Yang bisa dilakukan adalah meredam hasratnya dengan menikmati sendirian di depan televisi, atau lewat masturbasi diam-diam dalam taksinya. Tetapi Ahmad juga seorang yang religius. Dia rajin mengunjungi ceramah di masjid, di mana ia belajar tentang pentingnya kesucian, moral, dan Al-Quran.

Sepercik harapan muncul ketika Ahmad jatuh cinta dengan tetangganya, Kinar. Seorang pekerja seks komersial dan menjadi pengantarnya ke tempat kerja. Hubungan mereka tentu saja terhambat oleh mucikari Kinar. Konflik antara seks sebagai produk dan tekanan moral agama membingungkan Ahmad, yang hanya ingin membebaskan Kinar dan dirinya dari hidup penuh noda.

Film drama Indonesia berdurasi 94 menit ini karya sutradara Teddy Soeriaatmadja. Pada 4 Desember 2015, Something In the Way ditayangkan untuk program spesial di 10th Jogja-Netpac Asian Film Festival di ruang pemutaran Taman Budaya Yogyakarta. Something In The Way juga diputar perdana di Berlinale (Berlin International Film Festival) 2013 dalam program Panorama. Film yang berani untuk menghadapi kenyataan pahit yang bisa saja memang dialami oleh masyarakat Indonesia. Hingga saat ini, film ini masih belum memiliki jadwal rilis yang pasti di bioskop Indonesia.

Salma Durroh S.

 

KEMPUL

Open Air Cinema: Gerimis Nggak Bikin Bubar
open air

Semalam, 4 Desember 2015 adalah hari terakhir pelaksanaan Open Air Cinema dalam rangkaian 10th JAFF. Pemutaran kali ini di Lapangan Gedung Serbaguna Dusun Sedan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman. Lokasinya benar-benar terbuka. Walaupun pemutaran sempat mundur karena bis bioskop keliling mengalami kendala teknis dan gerimis, penonton tetap setia menunggu. Banyak penonton yang menghabiskan waktu sembar sekedar menyantap kudapan atau bermain. Film yang diputar Amarta (Gadis dan Air), Ilalang, Ingin Hilang Waktu Siang, Kitorang Basudara, Natalan, dan Pulang Tanpa Alamat. Suasana membawa kembali penonton ke era 80an.  Salah satu warga, Adi, berkomentar, “Dulu sering tahun 80an sering ada yang kayak ginian, ada juga yang nontonnya dari dalem mobil itu, saya serasa kembali ke masa-masa muda.” Film tak sekedar merekam gambar, film adalah perekam jaman.

 

Rizka

Redaksi BENDE

Pemimpin Redaksi: Dyna Herlina | Sekretaris Redaksi: Lidia Nofiani, Riddla Annur | Reporter Redaksi: Uswah, Salma, Riska | Penata Letak: Gian

Founded by:

netpac2logo_jaff-jogja

Supported by:

                     Cinema XXI       TBY    LIP   fourcoloursfilms       JFA    miles films      loop station      bantara budaya      astro   button ijo     arenatiket.com      greenhost    edu hostel    adhisatana     paviliun 28   emwe    hakone      Oz Resto cafe      bakpiapia      serae      cartune     secret garden     dapur kamila     gudeg Yu nani      baleayu timoho      ilmondo pizza

Media Partner:

java videotron     PITPAGANDAlogo    kotajogja.com   geronimo fm  aditv    rri jogjarri pro  cinemags   muvila   infosenijogja  pamityang2an   starfm  istakalisa  Allfilm   filmindonesia   flick magazine  beranda jogja   nonton YK   infojogja   info lalin yk   logo-py-1  jogja student     tribun jogja

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL
Jl. Retno Dumilah 21B Kotagede Yogyakarta, Indonesia 55171
Phone: +62.274.412313 | Email: info@jaff-filmfest.org | Website: jaff-filmfest.org | Twitter: @JAFFjogja
© 2015 Jogja-NETPAC Asian Film Festival. All Rights Reserved.
Dev by: zulfan