BANNER BENDE

EDISI #4 // 04 DESEMBER 2015

SULUK

Button Ijo: Alternatif Distribusi dan Pembiayaan Film

 

Bertempat di Loop Station, 3 Desember 2015 pukul 10.00-12.00 berlangsung diskusi hangat bersama Button Ijo. Dirintis oleh Amir Pohan dan Myrna Paramita pada 2010, ButttonIjo berfokus pada distribusi film online. Mereka hendak menghadirkan opsi distribusi alternatif bagi pembuat film. Berkelit dari tata edar film bioskop yang sulit, ButtonIjo ingin memberdayakan kegiatan pemutaran film yang kian marak di Indonesia. Sehingga peredaran film tidak harus bergantung pada bioskop dan festival saja.
Saat ini ada tiga program yang sedang dan akan digalakan oleh ButtonIjo. Program itu adalah: distribusi online (via streaming), distribusi offline (via USB Sinema), dan film funding (pendanaan film). Siapapun yang ingin mengakses ketiga program ini cukup registrasi menjadi anggota buttonijo. “ButtonIjo sudah 3 tahun, ada banyak kegiatan seperti bikin film dan iklan. Tahun ini kami mencoba distribusi melalui USB sinema dan streaming,” jelasnya Myrna.

Kemudahan materi film yang tersedia pada web buttonijo.com dapat diakses oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun melalui perangkat smartphone, tablet, personal computer, hingga laptop. Materi itu telah diproses sedemikian rupa sehingga bisa punya resolusi gambar setara blu-ray dengan ukuran file yang kecil (sekitar 100-200mb untuk film berdurasi 90 menit). Hal ini memungkinkan waktu buffering yang jauh lebih cepat saat menonton, dan akses yang mudah di seluruh wilayah Indonesia yang koneksi internetnya beragam. Tentunya, sistem distribusi online ini turut dilengkapi dengan fitur keamanan mutakhir sehingga pembuat tidak perlu khawatir karyanya dibajak.
Read More

GONG

Nay: Kisah Kelam Perempuan

Nayla – Nay sapaan akrab seorang aktris yang sedang mengandung sebelas minggu. Mengetahui kandungannya, dia langsung memberitahukan hal ini kepada Ben, pacarnya. Ben bukannya bersikap bijaksana malah tak menghiraukan sama sekali tentang kehamilannya dan lebih mementingkan Ibunya. Di saat-saat seperti ini, dia juga mendapat kabar dari seorang produser film yang menyatakan bahwa dia terpilih menjadi pemeran utama dalam film berskala internasional. Nay dihadapkan kembali dengan sejarah kelamnya. Figur Ayah tak pernah dikenalnya, Ibu juga mengecewakannya.
Film Nay merupakan film drama yang disutradarai Djenar Maesa Ayu. Menarik! Film ini hanya diperankan seorang pemain (Ine Febriyanti) di dalam mobil yang melaju di jalan raya. Teknik penggarapannya tidak biasa karena memilih gaya monolog diselingi dengan suara pendukung lain.
“Karena saya seorang perempuan dan ini adalah isu yang paling saya kenal, ini isu yang seharusnya didengar oleh banyak orang,” ujar Djenar. Ia sengaja memilih seorang tokoh perempuan saja agar penonton fokus pada perempuan itu sendiri. Sedangkan setting di dalam mobil adalah metafora lingkup kecil sementara di luar mobil ada ada suasana kota yang terlihat cantik.
“Film ini di dedikasikan untuk korban tindak kekerasan dan seksualitas yang tidak bisa bersuara”, ungkap Djenar setelah pemutaran. Kendala utama dalam pembuatan Nay adalah dana. Ini bukan produksi komersial jadi tak banyak investor yang tertarik. “Ini resiko saya mengambil tema ini,” jelasnya tetap semangat.
Dalam perayaan 10th JAFF Nay diputar pada 3 Desember 2015 pukul 9.30-11.00 di ruang pemutaran TBY. Film ini telah diedarkan sejak 19 November 2015, film ini kurang mendapatkan animo dari penonton bioskop tanah air. Namun di festival ini Nay mendapatkan perhatian luar biasa dari pecinta film. Terbukti, ruang pemutaran berkapasitas 100 kursi penuh!
Salma Durroh S.

KELIR

Kuncir Kuda Tharlo

Di kawasan bukit di daerah Tibet, hiduplah seorang laki-laki yang sudah berumur 40 tahunan dan belum juga beristri. Tharlo, nama yang sebernarnya tidak dia ingat. Tetapi dibalik semuanya, dia memiliki memori yang kuat dan menakjubkan dalam berbagai hal. Karena rambutnya yang panjang dikuncir seperti ekor kuda, banyak yang memanggilnya “Ponytail”. Tharlo seorang penggembala domba yang hidup tenang. Ketenangannya terganggu ketika dia harus pergi ke kota untuk mendapatkan kartu identitas pertamanya. Sampai kota dia bertemu dengan seorang gadis di toko tukang cukur yang mengubah jalan hidupnya. Ia memulai perjalanan untuk menemukan diri sejati. Dia menjual semua domba termasuk domba yang dipercayakan oleh warga desa lain kepadanya untuk dirawat. Kemudian dia memutuskan menggunakan uang tersebut untuk pergi keliling dunia bersama si gadis. Namun sialnya, dirinya ditipu oleh gadis tersebut yang ternyata telah membuatnya jatuh cinta. Ironisnya, dalam perjalanan penemuan jati diri, Tharlo telah kehilangan pendiriannya. Saat dia melihat dirinya yang berkepala botak tanpa rambut ekor kudanya dipotong dicermin, Tharlo tak lagi melihat laki-laki yang dikenalnya dulu. Pema Tseden, sang sutradara menggambarkan Tibet sebagai daratan luas yang kasar. Film hitam putih ini diproduksi oleh Surga Picture. Tharlo ditayangkan di 10th JAFF pada 3 Desember 2015 di Empire XXI. Film peserta kompetisi ini pernah berhasil memenangkan Grand Prize dan Student Prize Tokyo Filmex Festival 2015. Salma Durroh S.

KEMPUL

Open Air Cinema: Super Antusias!

open air cinema

Langit masih bergemuruh ketika puluhan orang berbondong-bondong memenuhi Lapangan Badminton, Kasongan, Kasihan, Bantul. Lokasi ini menjadi tempat Open Air  Cinema ke 4, 3 Desember 2015, dalam rangkaian 10th  JAFF. Lokus ini dipilih bukan tanpa alasan, masyarakat sekitar sangat antusias pada pemutaran film. Terbukti, setidaknya 150 warga bersemangat menikmati pemutaran film ini. Bahkan, sebelum pemutaran film dimulai, sudah banyak warga yang datang karena tidak sabar menanti dimulainya pemutaran. Banyak anak-anak minta film segera diputar, “Mas, mbok diputer sekarang aja filmnya!” seru mereka.  Padahal waktu pemutaran film masih sangat jauh. Pemutaran film ini diawali dengan film edukasi (kartun) dari Dinas Cagar Budaya Yogyakarta. Film ini sebagai apresiasi untuk anak-anak yang hadir. Disusul dengan Bawang Kembar, Simbiosis, Api Unggun, Who Are We Here We Are dan Bocah Kebon.  

Oleh Rizka

 

Redaksi BENDE

Pemimpin Redaksi: Dyna Herlina | Sekretaris Redaksi: Lidia Nofiani, Riddla Annur | Reporter Redaksi: Uswah, Salma, Riska | Penata Letak: Gian

Founded by:

netpac2logo_jaff-jogja

Supported by:

                     Cinema XXI       TBY    LIP   fourcoloursfilms       JFA    miles films      loop station      bantara budaya      astro   button ijo     arenatiket.com      greenhost    edu hostel    adhisatana     paviliun 28   emwe    hakone      Oz Resto cafe      bakpiapia      serae      cartune     secret garden     dapur kamila     gudeg Yu nani      baleayu timoho      ilmondo pizza

Media Partner:

java videotron     PITPAGANDAlogo    kotajogja.com   geronimo fm  aditv    rri jogjarri pro  cinemags   muvila   infosenijogja  pamityang2an   starfm  istakalisa  Allfilm   filmindonesia   flick magazine  beranda jogja   nonton YK   infojogja   info lalin yk   logo-py-1  jogja student     tribun jogja

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL
Jl. Retno Dumilah 21B Kotagede Yogyakarta, Indonesia 55171
Phone: +62.274.412313 | Email: info@jaff-filmfest.org | Website: jaff-filmfest.org | Twitter: @JAFFjogja
© 2015 Jogja-NETPAC Asian Film Festival. All Rights Reserved.
Dev by: zulfan