BANNER BENDE

EDISI #3 // 03 DESEMBER 2015

SULUK

10thJAFF (BE) COMING 

Diversity of Screen

Public Lecture telah menjadi salah satu ciri khas penyemarak dalam perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Program ini bertujuan mengedukasi, mengapresiasi dan menegaskan keunikan Yogya.
Program Public Lecture pertama adalah Seminar (Be)Coming Asia. Acara ini digelar di Bentara Budaya, 2 Desember 2015 pukul 10.00-12.00, dipandu oleh Maulin Niam. Sedangkan pembicaranya Budi Irawanto (Direktur JAFF), Isabelle Glachant (Jurnalis dan Distributor Film dari Perancis) dan Mouly Surya (sutradara dan penulis skenario).
Keberadaan sinema Asia memang sangat saling mempengaruhi satu sama lain. Pengenalan dimulai dari karakter visual, bahasa, setting, wardrobe, dan gestur tentunya menjadi tolak ukur pembeda dengan sinema dunia lain. Kekayaan dan ketidakstabilannya Asia justru menjadi sumber artistik sinema Asia.
“Sebenarnya yang akan saya katakan disitu bahwa gagasan tentang Asia itu bisa didekati dengan banyak hal, misalnya kita bisa mendekatinya sebagai kekuatan ekonomi. Secara geografisnya batas negara Asia sebenarnya abstrak. Sehingga Asia bisa menjadi sumber inspirasi tentang penciptaan kreatif baik dalam sastra, film, dan seterusnya,” papar Budi Irawanto.
Diskusi ini menegaskan bahwa negara Asia itu berbeda-beda. Jadi agak sulit menempatkan mereka dalam satu nation yang sama dan baku. Penafsiran yang sama tentang Asia justru membuat Asia jadi tak bermakna. Banyak orang di Asia membentuk identitas hybrid karena pertemuan beraneka budaya Asia dalam dirinya.
Read More

GONG

Forum Diskusi Komunitas Film

K Jogja-Netpac Asian Film Festival diawali dengan film pembuka Memories On Stones (Biraninem li ser keviri) pada 1 Desember 2015 di Taman Budaya Yogyakarta. Film bergenre drama dari Irak ini di produksi oleh Mitos Film karya sutradara Shakat Amin Korki yang sekaligus menjadi penulis skenario bersama Mehmet Aktas yang dirilis pada 2014. Film ini semacam behind the scene film berlatar belakang operasi militer Anfal tahun 1988 pasca perang Kurdistan yang menghadapi kampanye genosida Saddam Hussein atas warga Kurdi Irak yang berujung pada pembantaian lebih dari 182.000 warga Kurdi. Desa di Kurdistan Irak hancur serta banyak warga sipil dieksekusi secara massal oleh gas beracun dan kelaparan. Hussein dan Allan sebagai sutradara dan produser filmnya harus mempertaruhkan segalanya dalam proses pembuatan film. Mereka dihadapkan pada ketidakpercayaan masyarakat lokal dan permintaan berlebihan dari bintang film nasional di tengah anggaran film yang rendah. Tugas yang paling berat menurut mereka yaitu menemukan pemeran utama wanita dalam film setelah mendapatkan pemeran utama pria yaitu Roj Azad. Sinur, seorang wanita dengan semangat dan bergairahnya ingin terlibat dalam perfilman ini tetapi terhalang oleh paman dan sepupunya, Hamid dan Hiwa. Satu-satunya cara yang tampaknya bisa tercapai agar Sinur dapat bermain dalam film ini yaitu dengan pernikahan dan kesepakatan dengan sepupunya Hiwa. Di belakang layar masalah belum berakhir setelah proses perfilman dan tragedi penembakan sudah berjalan. Di saat Hussein dan Allan kehabisan waktu dan uang, mereka mengorbankan segalanya untuk syuting film. Selain tidak paham soal produksi film, Hiwa belum mengerti pengabdian Sinur untuk film ini dan tekanan dari, Hamid sang Ayah, yang menyalahkan Sinur akan menghancurkan kehormatan keluarga. Film drama ini akan membawa kita mengenang lagi kejadian tragis pembantaian di Irak. Memories On Stones salah satu film Asia yang berhasil meraih banyak penghargaan dan terpilih sebagai film entrik Irak untuk Film Berbahasa Asing Terbaik di 88 Academy Awards. Seperti yang dikatakan oleh Ifa, Executive Director JAFF,  sfilm ini dipilih sebagai film pembuka karena film ini sangat sesuai dengan tema Festival tahun ini yaitu (Be)Coming”. Mewakili film Asia, film ini telah mampu bertahan dengan eksistensinya dengan film kancah dunia lainnya.

 

(Salma Durroh S.)

KELIR

Politik ala A Copy of My Mind

Berpisah dari kebisingan kota dan berisik kampanye pemilihan presiden, Sari memilih menonton DVD bajakan yang dibelinya tiap hari. Pekerja salon kecantikan ini merasa kesal dengan alih bahasa DVD yang buruk, lalu ia minta ganti rugi pada toko DVD. Protes ini mempertemukan Sari dengan Alek, sang penerjemah bahasa DVD bajakan. Sari dan Alek saling jatuh cinta dan tenggelam di dunia mereka sendiri. Konflik baru terjadi di pertengahan film, ketika Sari diminta bos barunya untuk memberi pelayanan di penjara. Sang klien, Ibu Mirna, ternyata seorang makelar politik yang menyimpan DVD rekaman pembicaraan penting dengan politikus dan pengusaha. Sari mencuri DVD rekaman itu karena dikira berisi film science fiction kesukaannya. Tentu saja Ibu Mirna tidak tinggal diam, ia berusaha menemukan Sari dan DVDnya. Namun kaki tangan Ibu Mirna justru menangkap Alek dan menyiksanya. Di tengah keputusasaan menemukan Alek, Mirna justru menyerahkan DVD itu bos DVD bajakan untuk digandakan. Film fiksi karya Joko Anwar memadukan persoalan politik dan percintaan dalam dengan konsepsi yang berbeda. Menangkap momen Pemilihan Presiden, film ini hanya dikerjakan dalam waktu 8 hari. Dua pemeran utama Chico Jerrico dan Tara Baso tampil dengan sederhana namun pas. Tak heran jika Copy of Mind mendapat sambutan hangat di Torronto International Film Festival. Film ini pun mendapat sambutan antusias dari penonton. Penjualan 80 tiket daring ludes hanya dalam waktu 30 menit. Antrian panjang penonton mengular sesaat sebelum pemutaran, tak sedikit penonton yang kehabisan tiket. Dalam sesi tanya jawab, Joko Anwar mengungkapkan kekagumannya pada JAFF. “JAFF itu cool banget, penontonnya keren-keren antusias. JAFF merupakan festival film paling keren sedunia,” serunya sumringah di akhir pemutaran. Oleh: Uswah dan Dyna

KIMPUL

Open Air Cinema JAFF: Penyemangat Kami

open air cinema  (1)

Tepat satu hari setelah pembukaan di Taman Budaya Yogyakarta, Open Air Cinema kembali menggadakan pemutaran film. Pada 2 Desember 2015 kemarin lokasi yang dipilih Ruang Serba Guna Kantor Kelurahan Banyuraden, Gamping, Sleman. Tak kurang 50 orang hadir baik dari warga sekitar ataupun pemerhati film. Pada sesi ini, film karya anak bangsa yang diputar adalah Maya, Udin Telekomsel, Kirana, Neng Kene Aku Ngenteni Koe dan Amin. Tak lupa pada akhir pemutaran film, diadakan sesi tanya jawab dengan pembuat film Kirana, Maya dan Neng Kene Aku Ngenteni Koe. Pada sesi ini, Mirwan Arfah sang sutradara film Kirana menyebutkan, “Saya berterimakasih dengan adanya program ini, setidaknya dapat membuat kami lebih antusias lagi dalam memproduksi film yang lebih baik.” Menurutnya program ini adalah sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap insan perfilman.

(Riska)

Redaksi BENDE

Pemimpin Redaksi: Dyna Herlina | Sekretaris Redaksi: Lidia Nofiani, Riddla Annur | Reporter Redaksi: Uswah, Salma, Riska | Penata Letak: Gian

Founded by:

netpac2logo_jaff-jogja

Supported by:

                     Cinema XXI       TBY    LIP   fourcoloursfilms       JFA    miles films      loop station      bantara budaya      astro   button ijo     arenatiket.com      greenhost    edu hostel    adhisatana     paviliun 28   emwe    hakone      Oz Resto cafe      bakpiapia      serae      cartune     secret garden     dapur kamila     gudeg Yu nani      baleayu timoho      ilmondo pizza

Media Partner:

java videotron     PITPAGANDAlogo    kotajogja.com   geronimo fm  aditv    rri jogjarri pro  cinemags   muvila   infosenijogja  pamityang2an   starfm  istakalisa  Allfilm   filmindonesia   flick magazine  beranda jogja   nonton YK   infojogja   info lalin yk   logo-py-1  jogja student     tribun jogja

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL
Jl. Retno Dumilah 21B Kotagede Yogyakarta, Indonesia 55171
Phone: +62.274.412313 | Email: info@jaff-filmfest.org | Website: jaff-filmfest.org | Twitter: @JAFFjogja
© 2015 Jogja-NETPAC Asian Film Festival. All Rights Reserved.
Dev by: zulfan