Sebanyak empat orang sutradara dan dua produser film hadir dalam pemutaran film Program JAFF-ISA di CGV J-Walk, Yogyakarta, pada Rabu (6/12). Kurang lebih selama dua jam, ruang pemutaran CGV menayangkan film-film secara bergantian. Lima tajuk film itu ialah Mesin Tanah, Sepanjang Jalan Satu Arah, Kisah di Hari Minggu, Regards From The Southern Crab, dan Munggah Kaji.

Pemutaran film hari itu menjadi lebih menarik ketika beberapa aktor dalam film bersangkutan hadir dan ikut menonton. Salah satunya ialah Bani Nasution, sutradara film Sepanjang Jalan Satu Arah. Pria yang akrab disapa Bani itu membawa aktor filmnya yang sekaligus keluarganya sendiri.

Sepanjang Jalan Satu Arah mengangkat kisah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Solo yang bersinggungan dengan konflik politik dan agama. Namun, film ini dikemas dalam bentuk memoar pribadi Bani selama penyelenggaraan Pilkada Solo dalam ranah keluarganya sendiri. Tuturan film yang berasal dari suara, pemikiran, dan kenangan Bani terhadap konteks sosial membuat film ini sedemikian personal. “Pilkada itu berdampak besar, terutama personal dan untuk keluargaku. Peristiwa itu membuat kami terpecah belah karena kami mempunyai perbedaan pandangan,” jelas Bani terkait keputusannya untuk merekam kisah pribadinya.

Bani berkisah, selama dan setelah penyelenggaraan Pilkada ia sempat didiamkan oleh ibunya. Hubungan ibu dan anak itu renggang karena Bani tetap kukuh tidak menggunakan hak pilihnya ketika ibunya menginstruksikan untuk memilih calon walikota beragama Islam. Bahkan, Bani juga berkisah bahwa ia sempat diceramahi oleh ibunya dengan menukil ayat Quran dan hadis. “Perbedaan pandangan itu pun tidak bisa disikapi dengan dewasa. Aku harus menuruti kemauan keluargaku. Artinya, aku adalah minoritas dalam keluargaku dan aku tidak bisa mengekspresikan pilihanku,” tutur pria yang berdomisili di Laweyan, Solo itu.

Pada akhirnya, Bani memutuskan untuk mengakhiri permusuhan itu; katanya, tidak mungkin berdiam-diaman seterusnya dalam keluarga. Ia mengambil risiko untuk dikecam oleh orang ketika membuat film ini. Namun, ia tetap menjalankan niatnya berdamai dengan cara merayu ibunya untuk bermain dalam film. “Momen itu [konflik internal keluarga] selalu aku rekam. Salah satunya adalah jadwal pengajian, jadwal kampanye, jadwal rapat demo; aku jadi tahu semuanya,” kenang Bani.

Hasil kolaborasi ibu-anak itu ialah perdamaian di antara keduanya. Benar, Sepanjang Jalan Satu Arah merupakan media Bani untuk berdamai dengan ibu dan keluarga, juga masyarakat Laweyan. Film itu bahkan menunjukkan fungsi film sebagai media komunikasi dalam konteks sosial yang menampilkan kompromi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok.

Achmad FH Fajar