ASIAN PERSPECTIVES SHORT – COMPILATION 3

Yi Yi

Indonesian Premiere
Puttnam School of Film & Animation / LASALLE College of the Arts (LCA)
Singapore
17 minutes
2021
Drama
Director: Giselle Lin
Writer: Giselle Lin, Lim Xiang Yin
Producer: Clyde Kam
Cast: Wendy Toh, Peter Yu, Iris Li

A mother, trapped in the comfort of memory and mourning, confronts her grief when she is invited to the wedding of her late son’s childhood sweetheart.

Seorang ibu, terjebak dalam kenyamanan kenangan dan duka, menghadapi kesedihannya ketika dia diundang ke pernikahan kekasih masa kecil mendiang putranya.

Still Images

Director’s Profile

Giselle Lin

Giselle Lin is a writer-director from Singapore. She has always wanted to write (and tell) stories about women, for women; depicting women’s passions, disappointments, and routines. She finds inspiration in the transience of life and the impermanence of, and emotional quality present in, all things, living or not. She graduated from LASALLE College of the Arts’ Puttnam School of Film & Animation with a First Class Bachelor’s in Film. Her thesis film Yi yi (Time Flows in Strange Ways on Sundays), of which she co-wrote and directed, had its world premiere at the 74th Locarno Film Festival in the Pardi di domani: International Competition category.

Giselle believes that art is the ordinary and the ordinary is art, and constantly looks to the women in her life and their experiences for stories. She hopes to forever make films that arise feelings before intellect; films that have stories filled with human truth, touch and taste — films that people feel before understanding.

Giselle Lin adalah seorang penulis-sutradara dari Singapura. Dia selalu ingin menulis (dan menceritakan) cerita tentang perempuan, untuk perempuan; yang menggambarkan gairah , kekecewaan, dan rutinitas perempuan. Dia mendapatkan inspirasi dari kefanaan hidup dan ketidakkekalan, serta kualitas emosional yang hadir dalam semua hal, hidup atau tidak. Dia adalah sarjana dari LASALLE College of the Arts’ Puttnam School of Film & Animation dengan capaian akademik yang sangat memuaskan. Film tesisnya “Yi yi (Time Flows in Strange Ways on Sundays)”, yang ia tulis dan sutradarai, ditayangkan perdana di the 74th Locarno Film Festival dalam kategori Pardi di Domani: Kompetisi Internasional. Giselle percaya bahwa seni adalah sesuatu yang biasa-biasa saja dan yang biasa-biasa saja adalah seni, dan terus-menerus mencari pada diri perempuan dalam hidupnya dan menengok ke pengalaman mereka untuk mencari cerita. Dia berharap untuk dapat selamanya membuat film yang memunculkan perasaan sebelum intelektualitas; film yang memiliki cerita yang penuh dengan kebenaran, sentuhan, dan rasa manusia — film yang dapat dirasakan orang sebelum mereka memahaminya.

Dear Father

MMU – Faculty of Cinematic Art
Malaysia
24 minutes
2020
Documentary
Director: Jonathan Lee, Pak Sun Man
Producer: Jonathan Lee
Cast: Lim Seng Kee, Lim Jia Chang

Dear Father is an experimental documentary, based on the theory of Generation Loss. It explores the memories between a father and son through voicemails, unwritten letters and photographs of them together.”

Dear Father adalah sebuah film dokumenter eksperimental, berdasarkan teori Generation Loss. Film ini mengeksplorasi kenangan antara ayah dan anak melalui pesan suara, surat yang belum sempat ditulis dan foto-foto bersama mereka.

Still Images

Director’s Profile

Jonathan Lee

Jonathan Lee is a filmmaker based in Malaysia. He has been determined to become a film producer and is currently also trying to direct and write whenever he feels connected to a subject. Currently, he is pursuing his Bachelor for Cinematic Arts.

Jonathan – Jonathan Lee adalah seorang pembuat film yang menetap di Malaysia. Dia telah bertekad untuk menjadi produser film dan saat ini juga sedang mencoba bidang penyutradaraan dan penulisan setiap kali dia merasa terkoneksi dengan suatu subjek. Saat ini, ia sedang mengejar gelar Sarjana Seni Sinematik.

Pak Sun Man

Growing up between Hong Kong and Malaysia, Pak have a strong passion and interest in Malaysia diaspora, Malaysian Chinese identity, Hong Kong identity, overseas Chinese, and third culture kids story telling.

Pak Sun Man – Ia tumbuh di dua negara, Hong Kong dan Malaysia, Pak memiliki semangat dan minat yang kuat pada diaspora Malaysia, identitas Tionghoa Malaysia, identitas Hong Kong, Tionghoa perantauan, dan cerita tentang anak yang tumbuh di budaya yang berbeda dengan orang tuanya.

Tris

World Premiere
The Mage
Indonesia
13 minutes 
2021
Fiction
Director: Djenar Maesa Ayu
Writer: Anggi Dilimanto
Producer: Ilham Romanzah
Cast: Reza Rahadian, Christine Hakim, Cornelio Sunny 

Tristan feels useless to his family. His decision to see a psychologist made him realize something he had never imagined before.

Tristan merasa tidak berguna bagi keluarganya. Keputusannya untuk menemui psikolog membuatnya menyadari sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Still Images

Director’s Profile

Djenar Maesa Ayu

Djenar has published six anthologies of short stories and a novel. Her short story, ‘Suckling Father’ became The Best Short Story of Jurnal Perempuan 2003, while ‘Nayla’s Time’ won an award of Kompas Best Short Story in the same year. Djenar directed her first film ‘They Say, I’m a Monkey!’ (2008) and won Citra Award for Best Adaptation Scenario category with Indra Herlambang and a Special Mention for Best New Director at Indonesian Film Festival 2009. Her third film ‘Nay’, won NETPAC Award in JAFF 2015. As an actress, Djenar won The Best Supporting Actress at Festival Film Bandung 2017.

Djenar telah menerbitkan enam antologi cerita pendek dan sebuah novel. Cerpennya, “Suckling Father” menjadi Cerpen Terbaik Jurnal Perempuan 2003, sedangkan “Nayla’s Time” meraih penghargaan Cerpen Terbaik Kompas di tahun yang sama. Djenar menyutradarai film pertamanya yang berjudul “They Say, I’m a Monkey!” (2008) dan memenangkan Penghargaan Piala Citra untuk kategori Skenario Adaptasi Terbaik bersama Indra Herlambang dan Penghargaan Khusus untuk Sutradara Baru Terbaik di Festival Film Indonesia 2009. Film ketiganya “Nay”, memenangkan NETPAC Award di JAFF 2015. Sebagai aktris, Djenar pernah memenangkan The Pemeran Pembantu Wanita Terbaik di Festival Film Bandung 2017.

Tak Bicara Bersuara

World Premiere
Cahaya Films
Indonesia
24 minutes
2021
Fiction
Director: Rendro Aryo
Writer: Rendro Aryo
Producer: Rendro Aryo
Cast: Suryaeka Putri, Haniv Hawakin

One night Monalisa is getting asked by a mysterious voices from her body.

Suatu malam, Monalisa ditanyai oleh suara misterius dari tubuhnya.

Still Images

Director’s Profile

Rendro Aryo

Rendro Aryo is an Indonesian Film Director with a big passion for filmmaking. He was born in Batam, Indonesia on October 5, 1993. He studied film directing at the Faculty of Film and Television, Jakarta Institute of the Arts. His short films have been selected and win in National and International Film Festivals. He worked as Director and Writer for production companies in Indonesia. In 2019 he established his own production company “Cahaya Films”. He continues making short films, documentaries and commercials and is now preparing his first feature film.

Rendro Aryo adalah Sutradara Film Indonesia dengan semangat yang besar untuk membuat film. Ia lahir di Batam, Indonesia pada 5 Oktober 1993. Ia belajar menjadi sutradara film di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Film pendeknya telah terpilih dan menang di Festival Film Nasional dan Internasional. Dia bekerja sebagai Sutradara dan Penulis untuk beberapa rumah produksi di Indonesia. Pada tahun 2019 ia mendirikan rumah produksinya sendiri yang bernama Cahaya Films. Dia terus membuat film pendek, dokumenter serta iklan dan juga sekarang sedang mempersiapkan film panjang pertamanya.

Udin’s Inferno

IDN Pictures
Indonesia
15 minutes
2021
Fiction
Director: Yogi S. Calam
Writer: Deo Mahameru
Producer: Sarah Rizkina, Anugrah Gege
Cast: Muzakki Ramdhan, Ibnu Jamil

Set in an Indonesian suburban Middle-Class neighborhood, Udin’s Inferno, tells a story about 12 years old kid named Udin, who got traumatized after reading a comic book about a depiction of hell torture. In the book, Udin sees a very graphic and disturbing violent depiction of tormented sinners that haunts him throughout the day. One of the sinners in the book is a person who got a tattoo in his life. One of his friends mocks Udin, a tattooed person in the book is Udin’s father, a guy who got tattoos all over his body. Udin thinks if he can manage to erase his father’s tattoo, he can save him and his father from getting to hell in the afterlife. Udin tries all efforts to erase his father’s tattoo which he obviously fails. Udin cannot deal with his obvious failure. He got even more haunted by his own depiction of hell not only when he was awake, but also in his sleep. In the end, his fears and trauma turn into a nightmare.

Bertempat di lingkungan Kelas Menengah pinggiran kota Indonesia, Udin’s Inferno, menceritakan tentang seorang anak berusia 12 tahun bernama Udin, yang mengalami trauma setelah membaca buku komik tentang penggambaran penyiksaan di neraka. Dalam buku itu, Udin melihat penggambaran kekerasan yang sangat gamblang dan menggelisahkan dari orang-orang berdosa yang tersiksa menghantuinya sepanjang hari. Salah satu pendosa dalam buku itu adalah orang yang memiliki tato dalam hidupnya. Salah satu temannya mengolok-olok Udin, bahwa orang yang bertato di buku itu adalah ayah Udin, ayah Udin seorang pria yang memiliki tato di sekujur tubuhnya. Udin berpikir jika dia berhasil menghapus tato ayahnya, dia dapat menyelamatkan dirinya dan ayahnya dari neraka di akhirat. Udin mencoba segala upaya untuk menghapus tato ayahnya yang jelas-jelas akan mengalami kegagalan. Udin tidak bisa menghadapi kegagalannya yang nyata. Dia semakin dihantui oleh gambaran neraka tidak hanya ketika dia bangun, tetapi juga dalam tidurnya. Akhirnya, ketakutan dan traumanya berubah menjadi mimpi buruk.

Still Images

Director’s Profile

Yogi S. Calam

Yogi is a filmmaker based in Jakarta, Indonesia. Yogi started his career in 2009 as a 1st assistant director for major commercial feature films including, 7/24 (2014), Jakarta Undercover (2017), Yowis Ben (2018), and Yowis Ben 2 (2019). Yogi got his first directorial debut in one of the most popular comedy TV Shows in Indonesia titled OK JEK. Yogi’s directorial career continues as he co-directs feature film titled Melodylan (2019), and OTT series titled Rewrite (2019). Currently, he’s working for IDN Pictures as Film Director.

Yogi adalah seorang pembuat film yang tinggal di Jakarta, Indonesia. Yogi memulai karirnya pada tahun 2009 sebagai asisten sutradara pertama untuk film layar lebar komersial termasuk, “7/24” (2014), “Jakarta Undercover” (2017), “Yowis Ben” (2018), dan “Yowis Ben 2” (2019). Yogi mendapatkan debut penyutradaraan pertamanya di salah satu Acara TV komedi terpopuler di Indonesia berjudul OK JEK. Karir penyutradaraan Yogi berlanjut ketika ia ikut menyutradarai film layar lebar berjudul “Melodylan” (2019), dan serial OTT berjudul “Rewrite” (2019). Saat ini, ia bekerja untuk IDN Pictures sebagai Sutradara Film.