Living in Chains

ASIAN PERSPECTIVE

Director: Nur Humaira Sajat

Duration: 14 minutes

Production: 2018

Country: Indonesia

Category: Documentary

SCREENING


SAT, 1 DEC 2018 / EMPIRE XXI STUDIO B / 10:00

SYNOPSIS


Living in Chains is a short documentary film that centers around the banned practice in Indonesia known as pasung. Pasung refers to the practice of physical restraint or confinement upon a person deemed as mentally ill. The documentary presents the standpoints of the traditional healers and the unconventional methods they employ to heal the patients. The film also serves to highlight the stigma and cultural beliefs that perpetuate the practice which still exists in certain parts of the world at this modern day and age.

Living in Chains adalah sebuah dokumenter pendek yang menceritakan fenomena pasung, sebuah praktik yang dilarang di Indonesia. Pasung merujuk kepada sebuah praktik di mana seseorang dibatasi pergerakan fisiknya karena dianggap mengidap penyakit mental. Dokumenter ini disajikan dari sudut pandang pengobatan tradisional dengan metode yang tidak biasa untuk mengobati pasien. Film ini juga menyoroti stigma dan kepercayaan yang mengabadikan praktik pasung yang masih dilakukan di zaman modern ini.

TRAILER


DIRECTOR


Nur Humaira Sajat

Through her course of study in Wee Kim Wee School of Communication and Information, Humaira developed a passion for documentaries. She channels her passion for broadcast and filmmaking to tell stories that matter. She loves challenging herself and explore topics that push beyond her comfort zone. She has produced a documentary on foreign workers from Bangladesh who worked in Singapore during the fasting month. The documentary was featured in a Singapore news platform, Berita Harian Singapura, which garnered more than 700k views and 6k shares

Melalui pengalamannya belajar di Wee Kim Wee School of Communication and Information, Humaira mengembangkan minatnya dalam film dokumenter. Ia menyalurkan minatnya dalam siaran dan memproduksi film untuk menyampaikan cerita yang berarti. Ia suka menantang diri sendiri dan menjelajahi topik-topik yang membuatnya keluar dari zona nyaman. Ia telah memproduksi sebuah film dokumenter mengenai pekerja asing dari Bangladesh yang bekerja di Singapura selama bulan puasa. Film dokumenter tersebut telah ditampilkan di platform berita Singapura, Berita Harian Singapura, dan telah memperoleh lebih dari tujuh ratus ribu penonton dan telah dibagikan sebanyak enam ribu kali.

Contact:

Atikah Hasimen

atik-ah@hotmail.com