ASIAN FEATURE 

PROGRAM'S NOTE: ASIAN FEATURE

The diversity of Asia-Pacific cinema generally has developed a lot. All the films in this program are visually attractive and pleasing to the eye. The development of films in the countries of Asia-Pacific opens a wider chance for us to compete side by side with the rest of the world. Along with the said development, the audience needs to be aware of the importance of the Asia-Pacific films which are close with the realness of the Asian life itself. Aside from being an entertainment, these films could also offer a quick peek of our culture and give knowledge in understanding Asia and Pacific. Thus, a festival is necessary to unite the said films with the Asian audience especially.

In this 14th year the number of registered film participants have increased in comparison with the previous years. This has become another challenge, having to watch a total of 177 feature-length films and merging the diverse perspectives for the chosen films to be put into the Asian Feature program. It is an exciting and fun challenge to see how (at least) the Asia-Pacific cinema is going today. 16 films have been chosen and are going to be screened in the Asian Feature Competition program this time. Some of the films have a sense of linkage between the contextual themes which are probably felt by the countries beside the origin country.

Blue Wind Blows (Tetsuya Tomina, 2018) takes us to a beautiful yet sorrowful tale with a silent nuance, a slow tempo, and of course an impressive visual. Nakorn-Sawan (Puangsoi Aksorn-Sawang, 2018) also interestingly visualizes death and memories, along with fiction and reality, life and death, and reunion as well as farewell. This program also takes us back on a time machine. We can feel the grace of the portrayal of popular culture in the 1980s Vietnam by the emotional journey of two people falling in love in Song Lang (Leon Le, 2018). House of Hummingbird (Bora Kim, 2018) invites us to drift along the metaphor of teenage life in 90s South Korea. There is a beauty of life pressure in a wrecked teenage life and the quest for an answer to the question unsolved by the world, depicted in this film.

A city and a country are also represented through Aurora (Bekzat Pirmatov, 2018) and Tehran: City of Love (ali Jaberansari, 2019). Aurora, through its analogy of sanatorium, is a reflection of Kyrgyztan today that still keeps the fragments of Soviet while still searching for their own national identity. Meanwhile Tehran: City of Love tells about a disappointed and lonely soul in Teheran as a representation of alienation amidst the modern Iran society. Two films that have thick sense of local culture are A First Farewell (Lina Wang, 2018) and Mountain Song (Yusuf Radjamuda, 2019). Both involve children in their films. A First Farewell, taking place in Xinjiang and also portraying the Uyghur ethic group, depicts a change and a demand in life that have to be faced during the growth of children. Mountain Song takes place in the highlands of Pipikoro, Sigi, Central Sulawesi and brings a metaphor of loneliness through the character of a child growing up in a remote space.

A secluded soul also exists in the films screened in this program. Ma.Ama (Dominic Sangma, 2018) is a journey to find the answer upon the past and to make peace with memories. The character in this movie, Philip is an 85 year old man looking for his long deceased wife. Ode to Nothing (Dwein Baltazar, 2018) tells about an emptiness echoing in silence, diving in loneliness and drowning in it, and a happiness found in things that do not have souls anymore. Wet Season (Anthony Chen, 2019) is a portrait of a woman on her journey to define and to find her own self back.

Buoyancy (Rodd Rathjen, 2019) is a portrayal of the exploitation of children in the modern slavery in the form of a Cambodian boy deciding to leave his home for a better life but then is leaded by fate to human trafficking and slavery. Paangshu (Chandrasekaram Visakesa) tells about a mother who has lost her child due to a kidnapping suspected to be done by a paramilitary force in the 1980s Sri Lankan tragedy. Verdict (Raymund Ribay Gutierrez, 2019) is a sharp critic told through the portrayal of the complex law procedure that abandons the sense of justice itself. This critic is wrapped in a story of violence happening in the most dangerous place for the woman herself: her house.

The mind that remembers and the heart that feels exist through Last Night I Saw You Smiling (Kavich Neang, 2019). This movie narrates the history which emerges from a block of apartments that are about to be destroyed. Memories, anxieties, and other feelings still live even though the place will soon be gone. Power blurs over fact and history evolves into fiction in The Science of Fictions (Yosep Anggi Noen, 2019). This movie also portrays how people have become the victim of a cruel past and an exploitative present.

All in all, happy watching, happy festival-ing, happy experiencing the Asia-Pacific cinema!

Indra Sukmana

Alexander Mathius

CATATAN PROGRAM: ASIAN FEATURE

Keragaman film Asia Pasifik pada umumnya sangat memberikan perkembangan. Keseluruhan film yang masuk dalam program ini pun memikat secara visual dan memanjakan mata orang yang menontonnya. Dengan semakin berkembangnya film di negara-negara Asia Pasifik sangat membuka peluang untuk bersanding di dunia. Dengan semakin berkembangnya film Asia Pasifik penonton juga harus sadar bahwa film Asia Pasifik yang dekat dengan kehidupan orang Asia sendiri sangat penting pula. Di samping sebatas tontonan film-film ini juga dapat memberikan irisan budaya dan memberikan pengalaman pengetahuan lain untuk memahami Asia dan Pasifik melalui film itu sendiri. Maka dengan itu festival sangat penting untuk mempertemukan karya-karya itu sendiri dengan penonton Asia pada khususnya.

Di tahun ke 14 ini adalah tahun di mana jumlah partisipan film yang mendaftar semakin meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri menonton total 177 film berdurasi panjang dan memiliki perspektif sangat beragam untuk dikerucutkan masuk ke dalam program Asian Feature. Sebuah tantangan yang menyenangkan dan juga mengasyikan untuk dapat melihat bagaimana (setidaknya) sinema Asia Pasifik hari ini. 16 film dipilih dan ditayangkan dalam program Asian Feature Competition kali ini. Beberapa film memiliki rasa saling keterkaitan antar tema yang kontekstual yang mungkin dialami oleh negara selain negara asal film tersebut dibuat.

Blue Wind Blows (Tetsuya Tomina, 2018) membawa kita ke kisah sedih yang indah dengan nuansa yang sunyi, tempo yang lambat, dan tentu saja visual yang sangat mengesankan. Nakorn-Sawan (Puangsoi Aksorn-Sawang, 2018) juga memvisualisasikan dengan menarik kematian dan kenangan, bersamaan dengan fiksi dan kenyataan, kehidupan dan kematian, dan reuni serta perpisahan. Program ini juga mengajak kita kembali naik mesin waktu. Kita bisa merasakan bagaimana keanggunan sketsa budaya populer Vietnam di tahun 1980an dengan perjalanan emosional dua manusia yang saling jatuh cinta dalam Song Lang (Leon Le, 2018). House of Hummingbird (Bora Kim, 2018) mengajak kita mengarungi metafora kehidupan remaja di Korea Selatan pada era 90an.  Ada keindahan tekanan hidup dalam dunia remaja yang hancur dan pencarian jawaban dari pertanyaan yang belum terjawab oleh dunia, tergambar dalam film ini.

Sebuah kota dan negara juga direpresentasikan lewat Aurora (Bekzat Pirmatov, 2018) dan Tehran: City of Love (Ali Jaberansari, 2019). Aurora lewat analogi sanatoriumnya adalah cermin dari negara Kyrgyztan hari ini yang masih memiliki kepingan sisa-sisa Soviet dan seraya masih mencari identitas nasionalnya. Sementara Tehran: City of Love adalah tentang jiwa yang kecewa dan kesepian di Teheran sebagai buah potret keterasingan di masyarakat Iran yang modern. Dua film juga kental budaya setempat yaitu A First Farewell (Lina Wang, 2018) dan Mountain Song (Yusuf Radjamuda, 2019). Keduanya melibatkan anak-anak dalam filmnya. A First Farewell, yang mengambil tempat di Xinjiang dan juga menggambarkan kelompok etnik Uygur, menggambarkan sebuah perubahan dan tuntutan kehidupan yang harus dihadapi dalam pertumbuhan anak-anak. Mountain Song mengambil tempat di daerah pegunungan Pipikoro, Sigi, Sulawesi Tengah dan membawa metafora kesendirian lewat tokoh seorang anak yang tumbuh dalam tempat yang memiliki akses luar biasa sulit untuk hidup.

Raga yang menyepi juga hadir dalam film-film yang ditayangkan di program ini. Ma.Ama (Dominic Sangma, 2018) adalah sebuah perjalanan menemukan jawaban akan masa lalu dan berdamai dengan ingatan. Karakter dalam film ini, Philip adalah seorang pria berusia 85 tahun yang mencari istrinya yang telah lama meninggal. Ode to Nothing (Dwein Baltazar, 2018) adalah cerita kehampaan yang bergema dalam keheningan, berenang dalam sepi dan tenggelam, dan sukacita yang hadir dalam hal yang sudah tidak bernyawa lagi. Wet Season (Anthony Chen, 2019) adalah potret seorang wanita dalam perjalanan untuk mendefinisikan dan menemukan kembali dirinya sendiri.

Buoyancy (Rodd Rathjen, 2019) adalah gambaran bagaimana eksploitasi anak dalam perbudakan modern dalam rupa anak laki-laki Kamboja yang memutuskan meninggalkan rumah untuk kehidupan yang lebih baik tapi nasib menuntunnya ke penjualan dan perbudakan. Paangshu (Chandrasekaram Visakesa, 2018) menceritakan seorang Ibu yang kehilangan anaknya karena paramiliter diduga menculiknya pada tragedi yang terjadi di Sri Lanka sekitar akhir tahun 1980an. Verdict (Raymund Ribay Gutierrez, 2019) adalah kritik tajam lewat gambaran prosedur hukum yang kompleks sehingga mengangkangi rasa keadilan. Kritik ini dibalut dalam kisah kekerasan yang terjadi di tempat paling berbahaya bagi wanita itu sendiri: rumahnya.

Otak yang mengingat dan hati yang merasa hadir lewat Last Night I Saw You Smiling (Kavich Neang, 2019). Film ini melantunkan sejarah yang hidup dari sebuah kompleks apartemen yang akan segera dihancurkan. Kenangan, kecemasan, dan rasa lainnya masih hidup kendati fisik tempatnya akan segera hilang. Kuasa mengaburkan fakta dan sejarah berevolusi menjadi cerita fiksi hadir dalam The Science of Fictions (Yosep Anggi Noen, 2019). Film ini juga menggambarkan bagaimana manusia menjadi korban dari masa lalu yang kejam dan masa kini yang eksploitatif.

Akhir kata, selamat menonton, selamat berfestival, selamat mengalami sinema Asia Pasifik!

Indra Sukmana

Alexander Mathius

GOLDEN & SILVER HANOMAN AWARDS

The Science of Fictions  

Yosep Anggi Noen/ 106 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Last Night I Saw You Smiling

Kavich Neang/ 77 Minutes/ 2019/ Cambodia/ Documentary

A First Farewell

Lina Wang/ 88 Minutes/ 2018/ China/ Fiction

Tehran: City of Love

Ali Jaberansari/ 102 Minutes/ 2019/ Iran/ Fiction

House of Hummingbird

Bora Kim/ 138 Minutes/ 2018/ South Korea/ Fiction

Verdict

Raymund Ribay Gutierrez/ 126 Minutes/ 2019/ Philippines/ Fiction

Buoyancy

Rodd Rathjen/ 93 Minutes/ 2019/ Australia/ Fiction

Wet Season

Anthony Chen/ 103 Minutes/ 2019/ Singapore/ Fiction

NETPAC & GEBER AWARDS

Mountain Song

Yusuf Radjamuda/ 76 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Ma•Ama

Dominic Sangma/ 123 Minutes/ 2018/ India, China/ Fiction

Song Lang

Leon Le/ 101 Minutes/ 2018/ Vietnam/ Fiction

Blue Wind Blows

Tetsuya Tomina/ 88 Minutes/ 2018/ Japan/ Fiction

Nakorn-Sawan

Puangsoi Aksornsawang/ 76 Minutes/ 2018/ Thailand/ Fiction

Ode to Nothing

Dwein Baltazar/ 93 Minutes/ 2018/ Philippines/ Fiction

Aurora

Bekzat Pirmatov/ 100 Minutes/ 2018/ Kyrgyzstan/ Fiction

Paangshu

Chandrasekaram Visakesa/ 85 Minutes/ 2018/ Sri Lanka/ Fiction