ASIAN FEATURE 

Asia for Asia

 

 

T hrough this thirteen-year-old festival journey, we have witnessed big numbers of Asian films with diverse urgencies and perspectives. Throughout the stories and conflicts served, we have seen Asia moving forward to meet yet other various urgencies and perspectives significant to be shared. Films are products of culture. They record the Asian society up close. They are also products of the industrialization, selling out popular stories only for the market to grow. Moreover, they, too, are the forms of political acts translated by the creators who actively engage within the dynamical movement of the society, voicing unheard stories.

The diversity and the movement of Asian films which keep making real progresses could be seen as a continuing fight of seeing Asia as the producer of its own stories or, as Asia as the consumer of the big market. What happens in China, India, Iran, Japan and South Korea, for an instance, before they were taken into world-stage discourses (or in-between those period), films produced in each of these counties, with each of their urgencies and perspectives, is that they have succeeded strengthening the culture of film appreciation amidst their people. In other words, these countries have positioned their own film productions in the most respectable manner to be appreciated by the local people before they are eventually seen by bigger audiences from the global market. Of course, this kind of situation differs as different regions in Asia have their own problems and progresses regarding their local film industries.   

In whatever circumstances films produced in each country are born, we believe that every piece of film work is worth its own kind of audience. If Asia as a big film market, as well as the producer of their own work pieces, is preserved and strengthened, it will develop into a powerhouse, which, not only gives births to films, but also to the culture of appreciating them; as a form of entertainment, critics or even sources of knowledge in the faculty of culture and humanities. Coming from that point, that a film is a bridge between the creator and his audience, we are eager to stay loyal in promoting the ideas and initiations coming from Asia for Asia; it will be an interesting study for both filmmakers and all supporting infrastructures to learn from the mentioned countries previously. It is our right to make possible all Asian-based film productions be easily distributed and accessed by the whole Asian audience in, of course, their own perspective and urgency.    

 

Asia untuk Asia

 

D alam perjalanan festival ini selama 13 tahun, kami telah menyaksikan begitu banyak karya film dari Asia yang memiliki urgensi dan perspektif yang beragam. Dari berbagai cerita dan persoalan yang tampil di dalam film, kita dapat melihat Asia yang terus menerus bergerak dan bersinggungan dengan perspektif dan kepentingan-kepentingan yang beragam pula. Karya film sebagai produk kultural yang merekam masyarakat Asia dari dekat, juga film sebagai produk industrial yang menjajakan cerita-cerita popular dalam kepentingan pasar, maupun film sebagai sikap politis dari para pembuatnya yang aktif dan terlibat dalam pergerakan di dalam masyarakatnya dan menyuarakan cerita-cerita yang tak terdengar sebelumnya.

Keragaman dan pergerakan film Asia yang terus menerus ini dapat kita lihat sebagai pertarungan sikap yang terus menerus pula, dalam usaha melihat Asia sebagai produsen dari cerita-ceritanya sendiri, ataupun Asia sebagai konsumen dan ceruk pasar yang besar. Apa yang terjadi di China, India, Iran, Jepang dan Korea Selatan misalnya, sebelum dikenal dan dibicarakan dalam panggung dunia (atau bebarengan dengan itu), film-film dari negara-negara tersebut, dengan berbagai kepentingannya, berhasil membentuk budaya menonton film yang kuat di dalam negaranya pula. Artinya negara-negara tersebut memposisikan film-film produksi dalam negerinya dalam posisi terhormat dan diapresiasi oleh masyarakat lokalnya sebelum akhirnya diminati oleh penonton yang lebih luas dalam pasar global. Tentu situasi ini berbeda dengan berbagai negara Asia lain yang memiliki persoalan dan perkembangan dalam industri lokalnya yang beragam pula.

Apapun yang mendasari lahirnya sebuah film di tiap-tiap negara, kami percaya setiap karya film pantas mendapatkan penontonnya masing-masing. Asia sebagai ceruk pasar yang besar, juga sebagai produsen dari karya-karyanya sendiri, jika dirawat dan dikukuhkan akan menjadi satu kekuatan tersendiri yang tidak hanya melahirkan karya film, tetapi juga budaya menontonnya; sebagai hiburan, kritik maupun sumber ilmu dan pengetahuan dalam perspektif budaya dan kemanusiaan. Karena itu sebagai sebuah festival film yang bekerja sebagai jembatan antara pengkarya dan penontonnya, kami bersemangat dan terus bersetia mempromosikan ide dan pemikiran dari Asia untuk Asia; meniru apa yang terjadi di negara-negara yang kami sebutkan di atas, akan menjadi suatu pergerakan menarik jika para pembuat film beserta seluruh insfrastruktur pendukungnya juga melakukan hal yang sama. Menjadikan seluruh film produksi negara-negara Asia, dapat dengan mudah distribusikan dan diakses oleh para penonton di Asia pula, tentu saja dalam berbagai macam bentuk kepentingannya yang beragam.

Ismail Basbeth

Program Director

GOLDEN HANOMAN & SILVER HANOMAN AWARDS

Nervous Translation  

Shireen Seno /90 minutes/2017/ Philippines/Fiction

Nochnoi Bog (Night God)

Adilkhan Yerzhanov/110 minutes/2017/Kazakhstan/Fiction

カメラを止めるな!(One Cut of the Dead)

Shinichiro Ueda/96 minutes/2017/Japan/Fiction

A Land Imagined

Yeo Siew Hua/95 minutes/2018/Singapore, France, The Netherlands/Fiction

Bei Fang Yi Pian Cang Mang (The Widowed Witch)

Cai Chengjie/118 minutes/2018/ China/ Fiction

Grit

Cynthia Wade & Sasha Friedlander/80 minutes/2018/ United States/ Documentary

Sa Palad ng Dantaong Kulang (In the Claws of a Century Wanting)

Jewel Maranan/120 minutes/2017/Philippines/Documentary

Die Tomorrow

Nawapol Thamrongrattanarit/75 minutes/2017/Thailand/Fiction

27 Steps of May

Ravi Bharwani/112 minutes/2018/ Indonesia/Fiction

NETPAC & GEBER AWARDS

Strange Colours

Alena Lodkina/75 minutes/2017/Australia/Fiction

Passage of Life

Akio Fujimoto/98 minutes/2017/ Japan & Myanmar/Fiction

Looking for Lucky

Jiang Jiachen/100 minutes/2018/ China/Fiction

Nyanyian Akar Rumput (The Song of Grassroots)

Yuda Kurniawan /107 minutes/2018/ Indonesia/ Documentary

Ema Nudar Umanu (Person Being/in the Nature of (a) Human)

Thomas Henning & Jonas Rusumalay Diaz/70 minutes/2017/East Timor/Fiction

Goodnight & Goodbye

Yao-tung Wu/65 minutes/2018/Taiwan/Documentary

War Crime

Gopal Shivakoti/65 minutes/2017/Nepal/Documentary

Ave Maryam

Ertanto Robby Soediskam/85 minutes/2018/Indonesia/Fiction

The Red Phallus

Tashi Gyeltshen/85 minutes/2018/Bhutan/Fiction