ASIAN FEATURE

Director’s Perspective: Artistic Identity and Market Commodities

by Ismail Basbeth

Talking about the emergence of a (film) work may not exclude the perspective of the maker, particularly the director. In an interview published in the website Jurnal Footage conducted by Hafiz Rancajale, JB Kristanto (*) stated that what is principal of a director or artist’s contribution is his/her own perspective. With abundant experiences of working as a film journalist and critic in Indonesia, his statement is surely reliable. After conducting different kinds of experiments in filmmaking through 11 shorts and 5 features—varying in terms of form, theme, and story—for the last 11 years (2006–2017), as well as watching and selecting plentiful films as the program director of Jogja-NETPAC Asian Film Festival for the last seven years (2006–2007 & 2013–2017), I admit and agree with JB Kristanto’s argument.

How we see, apprehend, interpret, and utilize things in everyday life are different one another; it is our nature as a human to have our individual and distinct stories. To completely understand ‘who’ we are and how we contribute in the context of creation of both film and art in general, we are required to understand who we are in everyday life: what comforts or discomforts us, what we like or dislike, what we care about or ignore. The ephemeral answers to these questions keep us involved in the process of “being” human and artist with certain distinguished perspectives. The growth of an artist’s perspective is closely related to the artist’s everyday life which will conduce a personal perspective in the art work in an organic manner. It will concurrently mark the existence of a local perspective of a certain territory.

A director possessing a personal perspective within his/her works can be confirmed of posessing a particular artistic identity as well. Such director, either working within the industrial framework with a studio or independently, will usually be able to make his/her artistic identity prominent either intentionally or not. Even in most cases, the artistic identity was considered valuable as a market commodity since it attracted wide audience in the world that is open to any kind of possibility. Take for examples Abbas Kiarostami, Wong Kar-wai, Lav Diaz, Ang Lee, Apichatphong Weerasethakul, Wang Bing, Garin Nugroho, and many others. Those names can certainly draw people’s attention due to their films’ typical and personal characteristics regardless of the fact that the films’ admirers and viewers may not be equally plenty and wide.

All of those aforementioned directors began their careers and have worldwide audiences by means of film festivals. Film festivals, as the sites for celebrating films, have the tendency of selecting and standing in with the directors (or films) possessing a prominent artistic identity and the power to affect, shift, and even shake the world film market. This very market is dominated by studio-production films that tend to be stagnant, formulaic, putting forth business perspective instead of the cultural one, cinematic experience, as well as intense and crucial stories.

Following the trial conducted last year, starting in this year, we officially split Asian Feature program into two award categories with the same objectives: capturing a new and fresh possibility of the identity of Asian cinema which is dynamic and in continuous interaction with other identity, as well as intervening in its growth and definition. Golden Hanoman & Silver Hanoman Awards are dedicated to qualified Asian films carrying their own voices and approaching many without losing their strong and particular artistic identities. For this category, we have Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts) by Mouly Surya that approaches the magnificent and barren Sumba in an intense Western style, narrating the story of a woman named Marlina who confronts the bitterness of life gallantly. Take a look at Dark is the Night by Adolfo Alix Jr. telling a mother who lost her son in the middle of terrifying situation caused by numerous drug dealers being killed without trial in Manila. NETPAC & Geber Awards are bestowed upon the Asian directors’ first until third films or whose artistic identities are greatly unique and important. We may see this, for instance, through Love and Shukla, Jatla Sidharta’s first feature that narrates a Brahmin man attempting to build an intimate and “normal” relationship with a woman he just married under a very absurd situation caused by his being inexperienced of dealing with any female counterpart amid a low class family living in Mumbai. We may also check out Tarling is Darling, the second documentary feature of Fahmi Lubish, recounting the challenging and bitter life of “tarling: gitar suling” (guitar and bamboo flute) singers and communities in Indramayu.

The main functions of curation in a film festival or screening program are capturing and understanding different, typical, and diverse perspectives of directors, as well as connecting them with the context of the work’s emergence, both in regard to the political-economic and social-cultural intersections in certain region or territory in which the works are produced, and with the technological innovation and knowledge applications within the film works themselves. Such curation is an endeavor of figuring out the collective perspective of a territory, which usually has a peculiarity and similar, particular intersection regardless of different types and forms of film by different directors. This is the spirit underlying our works in capturing and framing diverse best Asian films in the competitive section of Asian Feature, in the hope for discovering the latest development of the “fluid” and diverse identity of Asia. Enjoy.

(*) Hafiz, interview with JB Kristanto, “JB Kristanto: Kritik Filem Kita Berhenti” www.jurnalfootage.net, 28 April 2013, reaccessed on 16 August 2017.

Perspektif Sutradara: Identitas Artistik dan Komoditas Dagang

 

oleh Ismail Basbeth

Membicarakan lahirnya sebuah karya tak pernah lepas dari persektif para pembuatnya, terutama para sutradara. Dalam sebuah wawancara di website Jurnal Footage bersama JB Kristanto oleh Hafiz Rancajale (*), beliau mengatakan bahwa yang utama dari sumbangan seorang sutradara atau pengkarya adalah perspektif atau sudut pandang. Dengan jam terbang yang luar biasa panjang sebagai wartawan dan kritikus film di Indonesia, tentu pendapat J.B Kristanto dapat dipertanggungjawabkan. Saya sendiri, setelah melakukan berbagai macam eksperimentasi pembuatan film dalam 11 film pendek dan 5 film panjang dengan berbagai bentuk, tema, dan cerita selama kurun waktu 11 tahun terakhir (2006-2017), serta menonton dan menyeleksi banyak film sebagai pengarah program di Jogja-NETPAC Asian Film Festival selama 7 tahun terakhir (2006-2007 & 2013-2017), bersepakat atas pendapat tersebut dan mengamininya.

Cara kita melihat, mengolah, menerjemahkan, dan menggunakan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari begitu berbeda; pada dasarnya manusia terlahir dengan cara dan cerita yang berbeda satu sama lain. Untuk sepenuhnya mampu memahami ‘siapa’ diri kita dan fungsi kita dalam konteks kekaryaan—baik film maupun seni—kita dituntut untuk memahami siapa diri kita dalam hidup sehari-hari: apa yang membuat kita nyaman apa yang tidak, apa yang kita sukai apa yang tidak, apa yang kita pedulikan apa yang tidak. Jawaban-jawaban sementara atas pertanyaan ini terus-menerus melibatkan kita dalam proses ‘menjadi’ manusia dan pengkarya dengan persektif yang khas. Tumbuh kembang perspektif seorang pengkarya terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari mereka, yang akan secara organik membantu melahirkan persektif personal dalam karyanya, sekaligus dengan demikian menjadi pijakan ataupun penanda persektif kolektif wilayah tertentu.

Sutradara yang memiliki perspektif personal dalam karya-karyanya dapat dipastikan memiliki identitas artistik yang khas pula. Sutradara demikian, meskipun bekerja dalam kerangka industri bersama studio ataupun mandiri, biasanya tetap mampu memunculkan identitas artistiknya, disengaja maupun tidak. Sering kali bahkan, identitas artistik tersebut memiliki nilai sebagai komoditas dagang karena diminati oleh penonton luas di dunia yang terbuka pada berbagai macam kemungkinan; sebagai contoh: Abbas Kiarostami, Wong Kar-wai, Lav Diaz, Ang Lee, Apichatphong Weerasethakul, Wang Bing, Garin Nugroho dan lain sebagainya. Nama-nama mereka saja sudah dapat dipastikan mampu menarik perhatian calon penonton karena pembawaan film mereka yang begitu khas dan personal, meski penggemar dan penonton mereka tidak selalu semuanya sama besar dan luas.

Menariknya, semua sutradara yang disebutkan di atas memulai kariernya dan memiliki penonton di dunia karena festival film. Festival film, sebagai sebuah wadah perayaan film, cenderung memilih dan memposisikan dirinya bersama sutradara (atau film) yang memiliki identitas artistik yang menonjol dan diyakini mampu memengaruhi, menggeser, bahkan menggetarkan pasar film dunia yang didominasi oleh film-film produksi studio yang cenderung stagnan, formulaik, dan mementingkan perspektif bisnis daripada perspektif kebudayaan, pengalaman sinematik, dan cerita-cerita yang kuat dan penting.

Setelah proses uji coba yang dilakukan tahun lalu, per tahun ini kami resmi memisah program Asian Feature menjadi dua kategori penghargaan dengan tujuan yang sama: menangkap kemungkinan baru dan segar terkait identitas film Asia yang dinamis dan terus-menerus mengalami persinggungan dengan identitas lain, dan memengaruhi tumbuh kembang serta definisinya. Golden Hanoman & Silver Hanoman Awards diberikan untuk film-film Asia berkualitas yang “bunyi” dan mampu mendekati banyak orang tanpa kehilangan identitas artistik yang kuat dan khas dari para pembuatnya; sebut saja film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly Surya yang mendekati kultur Sumba yang begitu indah sekaligus gersang dengan gaya western kental dalam menceritakan seorang perempuan bernama Marlina yang harus menghadapi segala bentuk kepahitan hidup dengan gagah berani. Juga lihat film Dark is the Night karya Adolfo Alix Jr. yang menceritakan seorang ibu yang kehilangan anaknya dalam suasana yang begitu mencekam, akibat pembunuhan-pembunuhan tanpa pengadilan terhadap para pengedar narkoba di Manila. NETPAC & Geber Awards dipersembahkan untuk film-film Asia yang dibuat oleh sutradara film pertama hingga ketiga, dan atau film yang memiliki identitas artistik yang amat unik dan penting. Misalnya Love and Shukla, karya film pertama Jatla Sidharta tentang seorang laki-laki Brahmana yang berusaha membangun hubungan intim dan “normal” dengan seorang perempuan yang baru saja dinikahinya dalam situasi yang begitu absurd berkat tidak adanya pengalaman menghadapi lawan jenis dalam keluarga kelas bawah yang hidup terimpit di Mumbai. Atau lihatlah Tarling is Darling, film dokumenter panjang kedua dari Ismail Fahmi Lubish yang bercerita tentang kehidupan getir para penyanyi dan komunitas ‘tarling: gitar suling’ di Indramayu.

Fungsi kurasi yang utama dalam sebuah festival film ataupun program pemutaran adalah menangkap dan memahami persektif dari masing-masing sutradara yang berbeda, khas, beragam; dan mengaitkannya dengan konteks kelahiran karyanya, baik itu dalam singgungan politik-ekonomi dan sosial-kulturalnya dengan wilayah tertentu tempat karya itu lahir, hingga inovasi teknologi dan terapan pengetahuan dalam karya film itu sendiri. Kurasi yang demikian adalah usaha menemukan persfektif kolektif dalam satu teritori tertentu, yang biasanya punya ciri khas dan irisan yang sama meski terdiri dari berbagai jenis dan bentuk film oleh sutradara yang berbeda. Semangat inilah yang kami gunakan untuk menangkap dan membingkai berbagai film Asia terbaik dalam program kompetisi Asian Feature, dengan harapan menemukan perkembangan terbaru dari identitas Asia yang begitu beragam dan “cair”. Selamat menikmati.

(*) Hafiz, wawancara dengan JB Kristanto, “JB Kristanto: Kritik Filem Kita Berhenti” www.jurnalfootage.net, 28 April 2013, diakses ulang 16 Agustus 2017.

Golden & Silver Hanoman Awards

A Father’s Will

Director: Bakyt Mukul & Dastan Zhaparuulu

Duration:112 minutes

Production: 2016

Country: Kyrgyzstan

Category:Fiction

By the Time It Gets Dark (Dao Khanong)

Director: Anocha Suwichakornpong

Duration: 105 minutes

Production: 2016

Country: Thailand

Category:Fiction

Dark is the Night

Director: Adolfo Alix Jr.

Duration: 106 minutes

Production: 2017

Country: Philippines

Category:Fiction

Lady of the Lake

Director: Haobam Paban Kumar

Duration: 71 minutes

Production: 2016

Country: India

Category: Fiction

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts)

Director: Mouly Surya

Duration: 95 minutes

Production: 2017

Country: Indonesia

Category:Fiction

People Power Bombshell: The Diary of Vietnam Rose

Director: John Torres

Duration: 89 minutes

Production: 2016

Country: Philippines

Category: Hybrid

 

Sunshine that Can Move Mountains

 

Director: Qiang Wang

 

Duration: 109 minutes

 

Production: 2017

 

Country: China

 

Category:Fiction

The Plague at the Karatas Village

Director: Adilkhan Yerzhanov

Duration: 86 minutes

Production: 2016

Country: Kazakhstan

Category: Fiction

The Seen and Unseen

Director: Kamila Andini

Duration: 86 minutes

Production: 2017

Country: Indonesia

Category:Fiction

NETPAC & Geber Awards

Aqerat

Director:Edmund Yeo

Duration:  106 minutes

Production: 2017

Country: Malaysia

Category: Fiction

Bangkok Joyride Part 2

Director: Ing Kanjanavanit

Duration: 135 minutes

Production: 2017

Country: Thailand

Category: Documentary

Blockage

Director: Mohsen Gharaei

Duration:  82 minutes

Production: 2017

Country: Iran

Category: Fiction

Burning Birds

Director: Sanjeewa Pushpakumara

Duration: 84 minutes

Production: 2015

Country: Sri Lanka

Category: Fiction

In the Flesh

Director: Kong Pahurak

Duration:  82 minute

Production: 2017

Country: Thailand

Category: Fiction

Love and Shukla

Director: Jatla Siddhartha

Duration: 107 minutes

Production: 2017

Country: India

Category: Fiction

Phantom of Illumination

Director: Wattanapume Laisuwanchai

Duration:  69 minutes

Production: 2017

Country: Thailand

Category: Documentary

Tarling is Darling

Director: Ismail Fahmi Lubish

Duration: 109 minutes

Production: 2017

Country: India

Category: Documentary

The White Girl

Director: Jenny Suen

Duration:  97 minutes

Production: 2017

Country: Hongkong

Category: Fiction

Yamato (California)

Director: Daisuke Miyazaki

Duration: 119 minutes

Production: 2017

Country: Japan

Category: Fiction