Narrating in the Way Water Flows

By: Kamila Andini

Films are always sorted into categories: fiction, documentary, animation, etc. As time goes by, these categories coalesce. Approaches in filmmaking make more varieties of form, with more diverse perspectives and ways of narrating, thus the limits between ‘categories’ are transgressed. Here is the very point at which I think filmmakers start to narrate and record just like water does.

Talking about documentary will always include the subjects and how they speak. However, coalescence makes a wider and more diverse space for documentaries. Fictions taste like documentaries; documentaries taste like fictions, animated documentaries, teenage documentaries, adventurous documentaries, and so forth. The coalescence and diversity of films are presented through the 19 documentaries selected in this year’s Festival. Six of them will also compete in the main competitive section with (and not excluded from) other fictions. It suggests that this year is the right moment for JAFF to initiate a program specialized in documentaries and to comprehend the coalescence occurred therein.

Similar to water, the way filmmakers narrate becomes more flowing; they search for and later present something more specific in regard to what they desire to speak about. It is obvious through Tarling is Darling and Negeri Dongeng which take us streaming down the flow of their worlds. Film have also created new identities for the subjects repeatedly taped in other films; we can see the depiction of this kind in Bulu Mata, Abdul & Jose, and The Unseen World. This is where we find the sensibility in viewing the matters of gender, disability, cinema, identity, and even the life itself—both its fortunes and misfortunes.

Comparable to water, filmmakers also flow deeper, entering the narrow clefts hardly reached in storytelling. Take for example, Phantom of Illumination which takes us going through the ‘sense and memory’ of a movie theatre building. Or Oh Brother Octopus and Manila Scream that recounts the story of the sea and expression respectively, inviting the audience to go inside the subjects of the film and generate a new perspective on them.

However, still, analogous to water that is never disconnected from the spring, filmmakers also flow inside themelves, finding the core essence into the smallest unit of collective: family. One of those films, Mrs. Fang directed by Wang Bing, searches for the essence of a family relationship. My Father, The Last Communist sees such relationship within the context of today’s situation and self. Thereafter, the relationship poses some questions regarding the life itself, as we can see in either Musume (Daughters) or Semua Sudah Dimaafkan sebab Kita Pernah Bahagia.

As water does, films undergo a process and evolve. As water does, they always form a new identity whose diversity in narrating we keep reading up on. But anytime the stream has been flowing safely and steadily, here is where a new, different stream is required. To rise new ripples, to go against its own current. Hence this program is none but the celebration of the cinema itself.

Bertutur Seperti Air


Oleh: Kamila Andini

Film selalu terpilah-pilah menjadi kategori-kategori: fiksi, dokumenter, animasi, dan lain-lain. Semakin lama, kategori-kategori ini semakin lebur. Pendekatan dalam pembuatan film menjadi beragam, dengan perspektif dan cara bertutur yang juga semakin beragam sehingga menembus batasan antar-‘kategori’. Di titik inilah saya rasa, para pembuat film mulai berutur dan merekam seperti air.


Bicara mengenai dokumenter tidak lepas dari berbicara mengenai subyek dan penuturannya. Tapi, peleburan yang terjadi membuat dokumenter memiliki ruang yang semakin luas dan beragam. Fiksi terasa seperti dokumenter; dokumenter terasa seperti fiksi, dokumenter animasi, dokumenter remaja, dokumenter petualangan, dan lain sebagainya. Peleburan dan keberagaman film ini bisa dilihat dari 19 film dokumenter yang dihadirkan pada festival tahun ini. Enam di antaranya berada di kompetisi utama bersama (dan tanpa dipisahkan dari) film fiksi lainya. Hal ini menunjukan bahwa tahun ini adalah momen yang tepat untuk memulai program khusus dokumenter di JAFF dan membaca peleburan yang terjadi di dalamnya.

Seperti air, cara bertutur para pembuat film semakin mengalir, mencari dan menghadirkan sesuatu yang semakin spesifik tentang apa yang ingin mereka bicarakan. Coba lihat Tarling is Darling dan Negeri Dongeng yang mengajak kita, terbawa arus pada dunianya. Film juga telah menciptakan identitas baru dari subyek yang mungkin sudah berulang kali terekam dalam film, seperti dalam Bulu Mata, Abdul & Jose, dan The Unseen World. Di sinilah kita melihat sensibilitas dalam memandang gender, disabilitas, sinema, identitas, dan bahkan tentang kehidupan itu sendiri—beserta semua keberuntungan dan ketidakberuntungannya.

Seperti air, para pembuat film juga mengalir semakin dalam, masuk ke celah-celah yang mungkin sulit dijangkau dalam bercerita. Seperti film Phantom of Illumination yang mengajak kita memasuki ‘rasa dan memori’ gedung bioskop. Atau film Oh Brother Octopus dan Manila Scream yang masing-masing bicara tentang laut dan ekspresi, mengajak penonton mengikuti subjeknya lebih dalam dan memberikan perspektif baru darinya.

Tapi seperti juga air yang tidak pernah lepas dari sumbernya, pembuat film juga mengalir-mencari esensi ke dalam diri sendiri, ke dalam lingkup kolektif yang paling kecil: keluarga. Beberapa film seperti Mrs. Fang karya Wang Bing, mencari esensi dari sebuah relasi keluarga. My Father, The Last Communist melihat relasi tersebut dalam konteks diri dan situasi dunia saat ini. Relasi ini kemudian juga melahirkan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan itu sendiri, seperti yang bisa kita lihat dalam Musume (Daughters) atau Semua Sudah Dimaafkan sebab Kita Pernah Bahagia.

Seperti air, film berproses dan berkembang. Seperti air, mereka selalu membentuk identitas baru yang terus kita baca keberagamannya dalam bertutur. Namun saat aliran itu sudah mengalir mapan dan nyaman, maka di sinilah arus baru dibutuhkan. Untuk membuat riak yang baru, untuk melawan arusnya sendiri. Maka munculnya program ini, tidak lain, adalah perayaan atas sinema itu sendiri.



Balada Bala Sinema


Yuda Kurniawan/118 minutes/2017/Indonesia/Documentary

Bulu Mata

Tonnny Trimarsanto/61 minutes/2015/Indonesia/Documentary

Burma Storybook

Petr Lom & Corinne van Egeraat/81 minutes/2017/Thailand, Netherland/Documentary

Mrs. Fang

Wang Bing/86 minutes/2017/Hong Kong – France – Germany/Documentary

My Father, The Last Communist

Doan Hong Le/71 minutes/ 2016/Vietnam/Documentary

Semua Sudah Dimaafkan sebab Kita Pernah Bahagia (All is Forgiven, because We Have Been Happy)

Katia Engel & Paul Agusta/80 minutes/2016/Indonesia/Documentary

Adrien Genoudet/97 minutes/2016/Cambodia/Documentary


Abdul & Jose

Luigi Acquisto/53 minutes/2017/ Timor Leste/Documentary

AWAL: Nasib Manusia

Gilang Bayu Santoso/26 minutes/2017/Indonesia/Documentary

Dream Box

Jeroen Van der Stock/43 minutes/2017/Japan/Documentary

Manila Scream

Roxlee, Blair Camilo, Bob Macabenta/43 minutes/2016/Phillipines/Documentary

Musume (Daughters)

Ima Puspita Sari/44 minutes/2017/Indonesia, Japan/Documentary

Oh Brother Octopus

Florian Kunert/27 minutes/2017/Indonesia, Germany/Hybrid

The Unseen Words

Wahyu Utami/27 minutes/2017/ Indonesia/Documentary



All Quiet in the Rebel Province

Ten notes on Taiwan Docs explaining very briefly why they are among the best.

1. Officially, Taiwan does not exist. Also, Indonesia does not recognize it as a country. So it has to go around internationally in hiding, like a spy or a beggar. Like a documentary filmmaker.

2. There is no country, and also no population. There are no original Taiwanese although there is a small minority of aboriginals left. But like it goes with indigenous people, almost everything was taken from them. Basically, the Taiwanese are immigrants; and immigrants come with their stories from elsewhere. Those are the stories that make and feed movies.

3. Taiwan is the non-country, the island, of the Taiwanese New Wave. Known for the slow burning fiction films of Edward Yang, Hou Hsiao Hsien, and Tsai Ming-liang. Quietly in the shadows of these giants, the documentary filmmakers develop their own ways. Often also slow burning.

4. Money. There is money. There are film institutes. A lot of festivals. Bring me the head of the filmmaker who says the money is enough and easy to get. There will always be complains, but since they are from Taiwan and not from Malawi, they have less right to complain too much.

5. You do not have to be a recognized country to print serious books on cinema and to have even more serious critics. Yes, they even have universities with real film professors. The ideal climate for serious documentaries.

6. Since they were, are, will be pushed off their island by the big Chinese brother anyway, they have an open eye on the world outside their homeland (I do not come from mainland China so I can write that), and that is what a documentary filmmaker needs: an international open eye.

7. Every country has black pages in its history and Taiwan has a chapter or two. It was a military state not that long ago. So it indeed knows about censorship and appreciates that those days are over.

8. The films themselves should be the best arguments, so that will be the points number 8, 9 and, 10.

Chen Chieh-jen, Realm of Reverberations (2015)

Taiwan is closely in touch with the international art world. They have biennials and artists that get invited therein from other continents. So they are not surprised when a famous artist makes a movie, an art documentary.

9 Huang Hui-chen, Small Talk (2016).

Taiwan is a relatively open minded place. It does not allow same sex marriage yet, but they might be the first in Asia when it comes. So it is possible for Taiwan to send for the Oscar’s a documentary on the funeral of a lesbian, abused entertainer. To teach the so called “land of the free” a lesson.

10. Lee Yong-chao, Blood Amber (2017)

The world outside. Where the open eye comes in. After Taiwan-nurtured Midi Z, now there is a new filmmaker who goes no less deep inside this illegal and confused South East Asian country.


Gertjan Zuilhof

Segalanya Hening di Daerah Pemberontakan

Sepuluh catatan untuk Taiwan Docs yang menjelaskan dengan sangat singkat mengapa film-film berikut adalah yang terbaik.

1. Secara resmi, tidak ada yang namanya Taiwan. Bahkan Indonesia tidak mengakuinya sebagai negara. Maka di dunia internasional, Taiwan harus berada dalam persembunyian, selayaknya mata-mata atau pengemis. Sama halnya dengan pembuat film dokumenter.

2. Tidak ada negara, pun penduduknya. Tidak ada orang Taiwan asli. Meskipun masih tersisa sekelompok kecil orang asli Taiwan, nasib mereka sama seperti para pribumi yang seluruh hidupnya telah dirampas.
Pada dasarnya, orang Taiwan adalah imigran; dan para imigran tersebut datang dengan kisah-kisah mereka dari negeri lain. Kisah merekalah yang menjadikan dan memberi makna pada film.

3. Taiwan adalah pulau—sekali lagi, bukan negara—yang jadi wadah bagi Gelombang Baru Sinema Taiwan. Film-film fiksi yang lamban dari Edward Yang, Hou Hsiao Hsien, dan Tsai Ming-liang. Diam-diam, di bawah bayang-bayang nama besar tiga sineas tersebut, para pembuat film dokumenter mulai membuka jalan mereka sendiri. Sering kali dengan film yang sama lambannya.

4. Uang. Ada uang. Ada banyak sekolah film. Ada banyak festival.
Coba sebutkan sineas mana yang berani bilang bahwa cari uang itu mudah dan mereka punya cukup uang. Pasti selalu ada keluhan. Namun karena mereka datang dari Taiwan, dan bukan dari Malawi, mereka tidak berhak banyak mengeluh.

5. Tidak perlu jadi negara yang diakui untuk menerbitkan buku-buku bermutu tentang perfilman, dan untuk punya kritikus yang bahkan lebih bermutu. Ya, Taiwan punya banyak universitas dengan pengajar film yang mumpuni. Iklim yang ideal untuk lahirnya dokumenter yang serius.

6. Dengan kondisi telah, sedang, dan akan selalu ditekan oleh saudara Cinanya, mata mereka selalu terbuka pada dunia di luar tanah airnya (saya bisa menulis demikian karena saya bukan berasal dari Daratan Cina). Dan persis hal itulah yang dibutuhkan pembuat film dokumenter: mata yang mengarah pada dunia internasional.

7. Tiap negara punya catatan hitam dalam sejarahnya, dan Taiwan punya satu atau bahkan dua bab soal itu. Belum lama ini, Taiwan masih jadi negara yang dikuasai militer. Sensor adalah hal yang lazim pada masa itu, dan kini mereka mensyukuri bahwa waktu itu telah berlalu.

8. Film-film yang dihadirkan berikut dengan sendirinya adalah argumen paling baik. Maka ketiga film itu akan jadi alasan nomor 8, 9, dan 10.

Chen Chieh-jen, Realm of Reverberations (2015)

Taiwan terhubung dekat dengan dunia seni internasional. Mereka menyelenggarakan kegiatan bienial dan mengundang para seniman dari benua lain. Oleh karena itu, mereka tidak kaget ketika seorang seniman kondang membuat film, utamanya film dokumenter seni.

9. Huang Hui-chen, Small Talk (2016)

Di Taiwan, orang-orang terbilang cukup berpikiran terbuka. Saat ini memang belum ada pernikahan sesama jenis di sana, tapi mungkin mereka akan jadi negara pertama di Asia yang mengizinkannya.
Maka, mungkin saja Taiwan akan mengirimkan dokumenter dengan kisah pemakaman seorang penghibur lesbian yang dianiaya. Untuk memberi pelajaran bagi wilayah yang disebut tanah kebebasan.

10. Lee Yong-chao, Blood Amber (2017)

Tentang dunia luar. Yang dilihat dengan mata terbuka. Kita mungkin ingat nama Midi Z, sutradara Taiwan kelahiran Birma/Myanmar. Kini lahir seorang sineas yang juga jauh menyelami negara Asia Tenggara yang ilegal dan membingungkan ini.


Gertjan Zuilhof


Blood Amber

Lee Yong-chao/96 minutes/2017/Taiwan-Myanmar/Documentary

Realm of Reveberations

Chen Chieh-jen/102 minutes/2015/Taiwan-Myanmar/Documentary

Small Talk

Hui-chen Huang/88 minutes/2016/Taiwan/Documentary




There is a saying people live in a circle, a kind of a looping disc. For every death there is a birth, for every sorrow there is happiness, just as the earth is round and the seasons repeating, for every beginning there is an end, for every lost there is a find.

Loosing and finding are reality that humans condition themselves to live with. You lose a little bit of something every now and then, it might be something small and seemingly unimportant that your mind just occasionally remembers, maybe in passing, always with chuckles; or it might be something so close and so dear that your life shifts to revolve around that one moment of loss. It might be even you, and each loss is no less important than the other, each affects every finding in its magnitude.

This little compilation presents these two realities through very diverse of topics: from the irony of the impossibility of childhood dreams in Mojtama-e Laleh (Komeil Soheili, 2017); to a literal loss of a man in an event no one has control over to in I Want to Go Home (Wesley Leon Aroozoo, 2017); from an unexpected finding of a passion in a dying cinema in Phantom of Illumination (Wattanapume Laisuwanchai, 2017); to a seemingly nonsensical urgency of a man in pursuing his very specific hobby in Tetsu Kono’s Crazy Routine (Sébastien Simon & Forest Ian Etsler, 2016).

There is a sense of disquiet in each of the film, from the loses that are unexpected, dismissed, unspoken, amidst the dynamic of everyday life that hardens people. Often the findings feel like an irony, so that being lost becomes an option taken willingly. The complexity of the cycle continues, and through the films we are brought in a journey that catches glimpses of it.

Just like one of the film says, “You’ve been reincarnated endlessly.”


Ukky Satya Nugrahani



*The program Asian Doc is a collaborative program of Festival Film Dokumenter and Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF)


Syahdan, manusia hidup dalam lingkaran, sebuah piringan yang berputar. Untuk setiap kematian terdapat kelahiran, untuk setiap kesedihan terdapat kebahagiaan, seperti bumi yang bulat dan musim beralih, untuk setiap awal terdapat akhir, untuk setiap kehilangan terdapat temuan.

Kehilangan dan temuan adalah dua realita kehidupan sehari-hari. Kita mengalami kehilangan hampir setiap saat, kadang sesuatu yang kecil dan tidak penting, yang hanya muncul sesekali dalam ingatan, mungkin sekilas saja, ditemani tawa; atau bisa saja sesuatu yang dekat dan kita sayangi, hingga kehidupan kita berpusar pada satu peristiwa kehilangan tersebut. Pun, mungkin saja kita yang hilang—apapun faktanya, tidak ada perbandingan untuk masing-masing kehilangan, masing-masing terkorelasi pada tiap temuan dalam signifikansi mereka.

Kompilasi kecil ini menghadirkan dua realita tersebut lewat topik yang beragam: dari ironi ketidakmungkinan mimpi kanak-kanak dalam Mojtama-e Laleh (Komeil Soheili, 2017), hingga peristiwa kehilangan seorang lelaki di suatu peristiwa yang tidak dapat dia kendalikan pada I Want to Go Home (Wesley Leon Aroozoo, 2017); dari temuan akan mimpi yang tidak terduga lewat sebuah bioskop yang sekarat di Phantom of Illumination (Wattanapume Laisuwanchai, 2017), hingga hasrat yang seolah tidak masuk akal dari seorang lelaki dan hobinya yang sangat spesifik dalam Tetsu Kono’s Crazy Routine (Sébastien Simon & Forest Ian Etsler, 2016).

Terdapat kegelisahan yang muncul dalam film-film ini, dari kehilangan-kehilangan yang tidak terduga, tidak dihiraukan, tidak diperbincangkan, di tengah dinamika kehidupan sehari-hari yang mengeraskan individu. Seringkali temuan yang dimunculkan terasa ironis sehingga kehilangan seperti dijadikan pilihan. Kompleksitas siklus terus berlanjut, dan lewat film-film ini penonton dibawa dalam perjalanan yang menampilkan kilasan-kilasan dari realita kehilangan dan temuan.

Seperti yang diungkapkan di dalam salah satu film, “Kau telah mengalami reinkarnasi berulang kali.”


Ukky Satya Nugrahani



*Program Asian Doc merupakan program kerjasama antara Festival Film Dokumenter dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF)

I Want to Go Home

Wesley Leon Aroozoo/62 minutes/2017/Singapore/Documentary

Mojtama-e Laleh | Laleh Complex

Komeil Soheili/21 minutes/2017/Iran/Documentary


Phantom of Illumination (Niranratri)

Wattanapume Laisuwanchai/69 minutes/2017/Thailand/Documentary

Tetsu Kono’s Crazy Routine

Forest Ian Etsler & Sébastien Simon/17 minutes/2016/France, South Korea, Japan/Documentary