ARTWORK 13th JAFF

“I imagine JAFF as one of the media in art that could make people aware and be catharsis for this disruptive era”

– Andre Tanama

Artist

Xylography Artwork by Andre Tanama

Seni Cukil oleh Andre Tanama

The 13th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) will be held in the city of Yogyakarta. Annually, JAFF gathers and collaborates with various artists in producing artworks to be exhibited during the event. Last year, in 2017, the chosen artist was Eko Nugroho, whose arts have opened the doors of many connoisseurs across the globe. This year, another talented artist has been chosen to collaborate in creating the aesthetic touches for the upcoming 13th JAFF event. He is called by the name of Andre Tanama, Yogyakarta’s renowned artist.

Andre Tanama, whose art pieces have been visiting the market since 2000, was born and raised in Yogyakarta. Currently, aside from immersing himself in creative processes as a professional artist, Tanama also spends time giving lectures in Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

This year’s JAFF brings up the grand theme of Disruption. Tanama, making references to the theme, has successfully blown creative spirits into two artwork pieces for the event: the Official Artwork for the 13th JAFF, and a figure of Wayang Monyong, made from several recording equipment with modified touches here and there.

The theme of Disruption for the 13th JAFF has been projected artistically through Tanama’s Official Artwork of the 13th JAFF. The thirteen dots connecting each other symbolize the thirteen-year old journey of the event. The bold lines, giving particular characterizations to the artwork, are nicely graved using the xylograph technique a la Tanama. Behind the artwork is Tanama’s own philosophical understanding derived from Francis Fukuyama’s book of The Great Disruption, in which the term is seen as a portrayal of giant waves abolishing the mankind and their civilization; a kind of wave nobody can run from.

Andre Tanama hopes that his art pieces can truly channel JAFF’s concern about the kind of Disruption the world is now facing, the chaotic world we are all experiencing, full of clashes and violence. Furthermore, he expects JAFF to create rooms of interactions for each individual, as well as to inspire and bore pieces in various forms to improve the awareness of those who are keen and passionate about the world in general. Last but not least, Tanama also hopes that JAFF can provide collaborative spaces and opportunities for the creative agents specifically in Yogyakarta, and generally all around Indonesia. (Dira Patria)

Perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-XIII tahun 2018 ini akan diselenggarakan kembali di kota Yogyakarta. Setiap tahunnya, JAFF bekerja sama dengan seniman-seniman perupa untuk menghasilkan karya seni rupa (artwork) yang akan digunakan selama perhelatan JAFF berlangsung. Tahun 2017 lalu, seniman yang terpilih untuk berkolaborasi dengan JAFF adalah Eko Nugroho, maestro yang telah berhasil membubuhkan karyanya hingga ke penjuru dunia. Pada tahun 2018 ini, JAFF berkolaborasi dengan salah satu seniman kenamaan kota Yogyakarta, Andre Tanama.

Andre Tanama merupakan seniman perupa asli kelahiran Yogyakarta yang karyanya telah malang melintang sejak tahun 2000. Saat ini selain sebagai seorang perupa, Andre Tanama juga menjadi pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Jogja-Netpac Asian Film Festival ke-XIII tahun ini mengangkat tema Disruption sebagai tema utamanya. Andre Tanama yang berpatokan pada tema tersebut berhasil melahirkan dua karya untuk JAFF, yaitu Official Artwork JAFF XIII dan sebuah karakter bernama Wayang Monyong, di mana karakter Wayang Monyong ini terinspirasi dari sebuah alat produksi media rekam.

Tema Disruption yang diangkat pada JAFF XIII tahun ini berhasil diwujudkan dengan sempurna dalam Official Artwork JAFF XIII buatan Andre Tanama. Ke-tigabelas titik yang saling berhubungan dalam official artwork buatannya menggambarkan tiga belas tahun perjalanan JAFF hingga saat ini. Garis-garis yang keras dalam karyanya diaplikasikan secara baik menggunakan teknik cukil andalannya. Hal-hal tersebut juga selaras dengan filosofi Disruption yang dipahaminya melalui buku The Great Disruption karya Francis Fukuyama, yang mana Disruption dimaknai sebagai gelombang yang datang menghujam pada peradaban kita, dan gelombang tersebut mau tidak mau harus dihadapi.

Andre Tanama berharap karyanya dapat menjadi perwujudan JAFF dalam dunia yang mengalami Disruption, dalam dunia yang chaotic, sarat perpecahan dan kekerasan. JAFF diharapkan dapat menjadi ruang interaksi antar individu, dan JAFF dapat menginspirasi maupun menghadirkan karya-karya yang dapat memberikan kesadaran bagi penikmat dan pengapresiasinya. Terakhir, Andre Tanama juga berharap JAFF dapat memberikan ruang-ruang kolaborasi antar berbagai pihak maupun pelaku kreatif di Yogyakarta maupun Indonesia. (Dira Patria)