DISRUPTION

“Disruption” exists as a challenge to take on a new path in seeking for a fresh and open perspective on Asian culture and society.

Budi Irawanto

Festival President

In the last decade we have witnessed several tremendous changes sweeping across the Asian continent.  Climate change, natural disasters, human catastrophes, political upheavals and fast technological development in Asia not only affect the social and cultural landscape, but also encourage us to adopt a different perspective of the world. Such impressive changes have destabilized facts, which we have often taken for granted, as well as our views. In other words, we are presently facing an inevitable “disruption” in various forms and scales.

In this backdrop, “disruption” can be understood as a new development that has profoundly transformed many aspects of our contemporary life as reflected in Asian cinema. Thus, “disruption” uncovers culturally embedded biases and conventions, which shape the archetypal or stereotypical perspectives of Asian society, and get a way to find a new perspective. “Disruption” in its essence is about shattering those biases and conventions and unleashing creativity to forge a new vision of Asian culture and society through cinematic lenses. Essentially, “disruption” is about spearheading change rather than reacting to it.

Overall, “disruption” exists as a challenge to take on a new path in seeking for a fresh and open perspective on Asian culture and society. The Asian cinema has always embraces those challenges creatively and is in fact, an organic component of change itself.

D alam dekade belakangan kita menyaksikan sejumlah perubahan melanda kawasan benua Asia. Perubahan iklim, bencana alam, tragedi kemanusiaan, kemelut politik dan perubahan teknologi yang cepat di Asia. Perubahan yang masif itu tak hanya membentuk lanskap sosial dan budaya, tapi juga menggoyahkan kenyataan yang telah kita terima apa adanya maupun pandangan kita selama ini. Dengan kata lain, kini kita tengah berhadapan dengan “disruption” dalam beragam bentuk dan skalanya.

Dalam konteks itulah, “disruption” bisa dimaknai sebagai perkembangan baru yang telah mengubah dan mentransformasi pelbagai dimensi kehidupan kontemporer kita sebagaimana yang terpantul dalam sinema Asia. Karenanya, “disruption” menyingkap bias dan konvensi yang telah membentuk pandangan stereotipikal dan membeku serta mengarah pada munculnya perspektif baru. “Disruption” adalah persoalan mengikis bias maupun konvensi seraya mendedahkan kebebasan kreatif lewat lensa sinematik demi lahirnya visi baru tentang masyarakat dan budaya Asia. Ringkasnya, “disruption” bukanlah perkara menanggapi perubahan, melainkan perkara meretas perubahan itu sendiri.

Pada akhirnya, “disruption” adalah sebuah tantangan untuk meniti jalan baru demi menemukan pandangan yang lebih segar dan terbuka terhadap budaya dan masyarakat Asia. Sinema Asia senantiasa mengolah tantangan itu secara kreatif bahkan menjadikan dirinya sebagai bagian organik dari perubahan itu sendiri.