Suku Uighur menjadi salah satu sisi minoritas di negeri tirai bambu yang menarik untuk diangkat dalam sebuah layar sinema. Kehidupan suku yang menganut agama Islam dan sebagian besar menghuni provinsi Xinjiang ini berhasil dibingkai secara relevan namun hangat oleh Lina Wang, sang sutradara dalam A First Farewell (Di yi ci de li bie). Sudut pandang yang coba dibentuk Lina Wang pada debut film layar lebarnya ini, tampak begitu personal. Pengalaman sepertinya menjadi salah satu bahan pertimbangan Lina dalam memoles film ini, oleh karena ia sendiri juga lahir dan meluangkan masa kecilnya di daerah suku Uighur, Xinjiang. Sejak tahun 2018, A First Farewell telah melalang buana di berbagai pagelaran festival film. Salah satu prestasi yang diperoleh adalah memenangi Best Asian Future Film Award di Tokyo International Film Festival.  

Bercerita tentang Isa (Isa Yasan), anak bungsu sebuah keluarga sederhana peternak kambing pada suatu desa kecil dekat sebuah gurun di Xinjiang. Hidup bersama keluarga kecilnya, yaitu ayahnya tetua desa yang menjunjung tinggi kesukuannya, ibunya yang menderita meningitis hingga mengalami bisu tuli, dan kakaknya yang begitu penasaran untuk melanjutkan hidup di kota. Selain dari sudut pandang Isa, penonton juga diperkenalkan dengan kehidupan teman baik Isa, Kalbinur (Kalbinur Rahmati) dan adiknya Alinaz (Alinaz Rahmati) serta orangtua mereka yang merupakan petani kapas. Film ini mengambil pemerannya langsung dari anggota suku Uighur, sehingga kekhasan masing-masing karakter hingga persoalan yang diangkat dalam film pernah dialami oleh para pemerannya.

Paruh awal film dibuka dengan dialog antara kakak Isa, Musa (Musa Yasan) dengan ayah mereka tentang keinginannya untuk mencoba peruntungan di kota kemudian dilanjutkan dengan ikatan emosional isa dengan beberapa kambing kecil peliharaan yang dititipkan kepadanya. Dimulai dari situ, cerita akan bergulir dengan berbagai dinamika kehidupan kedua keluarga ini. Aspek-aspek kecil dalam rumah tangga mereka, gesekan antar anggota keluarga, hingga dinamika sosial yang faktanya juga dialami oleh suku Uighur saat ini.

Pengambilan gambar begitu menelisik berbagai sudut perkampungan Uighur, dari keriuhan kambing-kambing, rindang pohon, tumpukan semak, hingga intrik-intrik kecil dari persahabatan anak-anak. Pace lambat yang dibangun untuk menguak secara perlahan lembar demi lembar persoalan yang dialami kedua keluarga Uighur ini. Mulai dari kebimbangan Isa untuk memilih bermain bersama kawan-kawannya atau  mendampingi ibunya yang tergolek lemah di dipan rumah. Lalu ada pergolakan antara orangtua Kalbinur dan Alinaz yang harus memilih untuk pendidikan anak-anak mereka atau kehidupan bahagia mereka di desa. Konflik-konflik ini dibangun secara bertahap namun tidak berbentur satu dengan yang lain. Momen hingga dialog menggugah empati yang membangun sentimen penonton bisa ditemui hampir sepanjang alur cerita. Kehidupan suku Uighur tentang awal sebuah pertemuan, inti sebuah kesatuan keluarga, laju waktu yang terus berjalan, hingga makna sebuah perpisahan diringkas bagai buku harian sinema berjudul A First Farewell. Anda bisa menyaksikan A First Farewell pada program Asian Feature – Golden & Silver Hanoman Awards hanya di Jogja-NETPAC Film Festival 2019 ‘Revival’. (2019)

Ditulis oleh : Titus Kurdho | Disunting oleh : vanis