10 Films from Culture Office of Yogyakarta

Tentang Kota, Tentang Kita

Tahun ini adalah tahun kedua pelaksanaan program hibah produksi film pendek yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Yogyakarta. Tim kurator yang terdiri dari Ifa Isfansyah, Hanung Bramantyo, D.S. Nugraheni, Yosep Anggi dan Indra Tranggono berhasil memilih 10 naskah film fiksi dan 4 naskah film dokumenter untuk mendapatkan dana hibah tersebut. Saya, Greg Arya, Altianto, Lyza Anggraheni dan Alia Damaihati bergabung dalam program ini sebagai tim supervisi. Kini, keempat belas film tersebut telah selesai diproduksi dan kita dapat menyaksikan film-film tersebut dalam penyelenggraan JAFF dan FFD tahun ini.

Salah satu catatan yang menarik bagi saya ketika terlibat dalam program ini adalah bagaimana para sineas mampu membaca kota dalam beragam perspektif. Kota tidak lagi diterjemahkan sebagai ruang geografis yang bersifat kebendaan, namun kota adalah ruang imajinasi yang terbentuk dari segala macam persoalan sosial, ekonomi, politik dan budaya yang tereduksi dalam problematika individu. Jika Anda melihat Kitorang Basudara Anda akan melihat bagaimana masyarakat kota lebih mengagung-agungkan perbedaan daripada persaudaraan. Film Natalan mencoba membenturkan persoalan budaya dengan agama dalam kehidupan masyarakat modern. Sementara itu, Neng Kene Aku Ngenteni Koe dan Ilalang menerjemahkan kota layaknya dukun yang mampu memberikan jaminan ekonomi yang lebih baik. Dan, yang tak kalah menarik adalah Amarta, film yang mempertontonkan konflik penguasa dan rakyat yang disajikan secara teaterikal dengan latar kota berbentuk dua dimensi. Tidak hanya itu saja, beberapa film program dana hibah lainnya juga mampu memberikan gambaran tentang kehidupan kota secara luas. Menyaksikan film-film dana hibah tahun ini, kita seolah-olah sedang berkaca pada diri kita sendiri.

Ketika membuat catatan ini, tiba-tiba saya teringat perjalanan JAFF sepuluh tahun yang lalu, saat Garin Nugroho dan Philip Cheah mengumpulkan puluhan komunitas film pendek untuk menyelenggarakan sebuah festival film sebagai ruang belajar bersama, mengingat pada saat itu, akses untuk menonton film-film alternatif dari berbagai negara tidaklah mudah. Pada saat itu, semua komunitas film pendek bergerak dengan cara independen, baik pada saat proses produksi maupun saat mempertontonkannya pada khalayak. Di era itu, meski minim ruang menonton yang representatif, komunitas-komunitas film sangat aktif mempresentasikan karyanya dengan cara menyulap ruang kuliah, kafe, gudang dan sebagainya sebagai ruang tonton. Anehnya, justru ketika berbagai akses begitu mudah didapat, banyak sekali komunitas film yang mati. Dan kini, sebagian besar sineas membuat film sebagai aktualisasi diri bukan usaha bersama untuk menghidupkan kota sebagai ruang apresiasi.

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan selamat kepada para penerima dana hibah atas karya-karyanya dan terima kasih kepada Dinas Kebudayaan Yogyakarta yang telah memberi ruang kepada para sineas untuk membaca kota dengan cara kritis. Semoga program ini dapat menghidupkan kembali ruang apresiasi bukan sekedar gula-gula pemanis tanpa daya kritis yang kuat.

Ajish Dibyo

Programmer

About City, About Us

This year is the second grant program for short film production sponsored by Culture Office of Yogyakarta. The curator team consisting of Ifa Isfansyah, Hanung Bramantyo, D.S. Nugraheni, Yosep Anggi and Indra Tranggono have selected 10 fiction scripts and 4 documentary scripts to obtain the grant. Greg Arya, Altianto, Lyza Anggraheni, Alia Damaihati, dan I joint the program as supervision team. Now, the fourtheen films have been completely produced and we can watch them at this year’s JAFF and FFD.

One interesting note from my involvement in this program is the way the cineastes read city through various perspectives. City is not merely viewed as geographic space of materials; it is an imagination space formed by social, economic, political, and cultural issues which are reduced to individual problematics. If you watch Kitorang Basudara, you will find out how citizens pay more attention to differences than fraternity; whereas Natalan tries to collide cultural and religious problems in the life of modern people. Meanwhile, Neng Kene Aku Ngenteni Koe and Ilalang translate city as a shaman who can guarantee a better economy. And, the one which is by no means less interesting, Amarta, represents the conflict of ruler and people theatrically set in two dimention city. Not to mention that other films from the grant program are able to depict city life in a broader perspective. Watching these this year’s grant program films is like we are looking at the mirror of our selves.

When writing this note, suddenly I remembered the first JAFF; it was when Garin Nugroho and Philip Cheah collected dozens of short film community to hold a film festival as a shared study room considering that at the time it was hard to access alternative films from other countries. At that time, all short film communities work independently, whether in the process of production or exhibition. It was the time when there were few representative spaces to watch movie; yet, film communities actively presented their works by changing classroom, café, garage, etc. to be a good space to watch movie. Strangely, when access and facility got better, many film communities died. And now, most cineastes make film to self-actualize, not to be a shared effort to vitalize city as appreciation space.

As a closing statement, I want to congratulate the beneficiaries of grant fund for their works and to thank to Culture Office of Yogyakarta for their kindness in giving spaces to cineastes to read the city critically. Hope that this program could revitalize appreciation space; not merely a sweetener candy without strong critical force.

Ajish Dibyo

Programmer

AMARTA (Gadis dan Air)

Director:  Bambang “ipoenk” K.M
Duration: 26 minutes
Year: 2015
Country: Indonesia
Category: Fiction

Bawang Kembar

Director:  Gangsar Waskito
Duration: 17 minutes
Year: 2015
Country: Indonesia
Category: Animation

Ilalang Ingin Hilang Waktu Siang

Director:  Loeloe Hendra
Duration: 22 minutes
Year: 2015
Country: Indonesia
Category: Fiction

Jaranan

Director:  Pandhu Adjisurya
Duration: 18 minutes
Year: 2015
Country: Indonesia
Category: Fiction

Kirana

Director:  Mirwan Arfah
Duration: 14 minutes
Year: 2015
Country: Indonesia
Category: Fiction

Kitorang Basudara

Director:  Ninndi Raras
Duration: 30 minutes
Year: 2015
Country: Indonesia
Category: Fiction

Natalan (December)

Director: Tata Sidharta
Duration: 28 minutes
Year: 2015
Country: Indonesia
Category: Fiction

Neng Kene Aku Ngenteni Koe

Director: Jeihan Angga
Duration: 22 minutes
Year: 2015
Country: Indonesia
Category: Fiction

Pulang Tanpa Alamat

Director: Riyanto Tan Agerah
Duration: 22 minutes
Year: 2015
Country: Indonesia
Category: Fiction

Sasi Takon

Director: Wawan Sumarmo
Duration: 18 minutes
Year: 2015
Country: Indonesia
Category: Fiction